Entah kenapa aku jadi menuliskan cerita ini. Cerita yang kupikir sangat sulit untuk kulupakan. Kejadiannya 2 tahun yang lalu. Saat itu aku memang masih gadis desa yang baru saja ke kota. Kota yang menjadi tujuanku adalah Cianjur. Kota yang memang belum terlalu berkembang, namun kupikir aku akan betah. Aku tak tentu tujuan, tapi akhirnya aku memilih menjadi seorang pembantu rumah tangga. Kudapatkan pekerjaan itu di sebuah rumah yang memang tidak terlalu besar. Majikanku itu memang sudah menikah dan punya anak. Ia berprofesi sebagai seorang guru olahraga di SD. Tapi mungkin karena rumah yang ditempati mereka bertiga kurang besar, ditambah lagi ibu majikanku itu sudah tua, maka istri dan anaknya yang masih kecil itu tinggal di rumah terpisah bersama ibu majikanku. Aku berhasil mendapat pekerjaan ini memang karena bagaimana pun seorang pria tentu sulit merawat rumah sendirian, karena istrinya itu memang jarang datang berkunjung (entah bagaimana kehidupan seks mereka itu).
Singkatnya inilah awal perkenalanku:
Aku melangkah masuk ke rumah itu. Bu Titin, mempersilakanku masuk. Ia tampaknya setuju jika aku bekerja di rumah suaminya itu. Setelah berbincang beberapa saat, suaminya pulang. Dan saat itulah aku melihat suami Bu Titin. Dia pun melihat ke arahku. Oh Tuhan, suaminya benar-benar tampan dan seksi. Mungkin karena ia adalah seorang guru olahraga. Pantas saja ia menjaga bentuk tubuhnya itu.
"Tin, siapa dia? Pembantu buatku yang baru ya?"
"Iya, Mas. Aku bingung cari-cari, eh akhirnya ketemu juga," kata Bu Titin.
"Lastri, perkenalkan ini suamiku, Yayan."
"Lastri Pak," kataku malu-malu.
Aku benar-benar terpesona oleh penampilannya itu. Ditambah lagi saat itu dia seperti mandi keringat. Benar-benar bau kejantanannya membuatku bergairah.
"Yayan," katanya sambil menjulurkan tangannya yang kekar itu padaku.
Singkatnya, aku telah 2 minggu bekerja di rumah Mas Yayan. Aku benar-benar bahagia bisa menjadi pembantu Mas Yayan. Ia tipe pria idamanku. Aku pun merasa beruntung pula karena Bu Titin memang tidak pernah tinggal satu rumah bersama Mas Yayan seperti yang sudah kutuliskan tadi. Paling-paling hari Sabtu Bu Titin datang berkunjung dengan anaknya. Setelah itu pulang lagi. Jika Mas Yayan sudah berangkat, aku sering masuk ke kamarnya. Kuperhatikan selama ini, ia selalu memakai baju-baju ketat dan celana pendek yang super ketat yang sangat seksi menonjolkan otot-otot tubuhnya. Aku ingin tahu, apakah baju-baju seperti itu yang menjadi kegemarannya, soalnya setiap kali bajunya kucuci, aku cuma mencuci baju-baju seperti itu. Dan benarlah, semua jenis bajunya memang seperti itu. Kadang-kadang aku juga sering melihat album fotonya, dan ya ampun! ada sebuah album foto yang disimpannya di bawah tempat tidur. Album itu kutemukan tak sengaja waktu aku hendak mengganti sepreinya. Kurasa album itu dirahasiakan olehnya, soalnya foto-fotonya benar-benar super erotis. Bagaimana tidak, ia berpose bertelanjang bulat tanpa memakai pakaian sehelai pun di setiap foto-fotonya. Langsung saja gairahku memuncak melihatnya. Oh Mas Yayan, aku ingin sekali melihatmu bukan hanya di foto seperti ini!
Setiap kali mencuci bajunya, aku tak langsung mencucinya. Kadang kudekap rapat-rapat baju dan celananya itu. Apalagi yang basah karena keringatnya. Oh benar-benar jantan. Lalu celana dalamnya pun sering kucium dan kujilati. Kadang jika beruntung, kutemukan bulu-bulu kemaluannya tertinggal di celana dalamnya.
Tiba suatu hari, datanglah keberuntunganku. Mas Yayan waktu itu pulang agak sore. Ia memakai kaos ketat berwarna putih yang benar-benar seksi ditambah celana street yang memperlihatkan pahanya yang kekar dan berbulu itu.
"Darimana Mas?" tanyaku.
"Oh aku dari tempat fitness," katanya sambil masuk ke kamar tidurnya.
"Ehm.. pantas aja Mas badannya sangat bagus," kataku malu-malu.
Mas Yayan terdiam sejenak. Lantas ia memandangku.
"Memangnya kamu senang melihat tubuhku ini?"
"Ya tentu Mas. Sejak pertama kali kita kenalan, aku langsung mengagumi Mas," kataku mantap.
"Kalau boleh aku tahu, bagian mana dari tubuhku yang kamu suka, Lastri?"
"Aku suka lengan Mas yang kekar dan dada Mas yang bidang. Aku kadang suka jengah loh Mas kalau melihat Mas melepas pakaian Mas. Kadang aku ingin sekali menyentuhnya. Maaf Mas kalau aku lancang."
Ia tersenyum, "Wah nggak nyangka, aku punya pengagum."
"Mas kelihatannya lelah. Boleh aku pijetin?"
"Boleh, kamu pijetin aku sambil nonton film asyik."
Ia pun segera mengambil sebuah VCD dan menyalakan TV. Lalu ia memasangnya. Tak berapa lama, di layar muncul film erotis. Oh aku makin bergairah. Ia tersenyum lagi memandangku. "Ayo kamu naik ke tempat tidurku. Pijati badanku yang pegal-pegal ini." Aku benar-benar menikmati sensasi itu. Sambil tanganku memegang-megang tubuh pria yang selama ini jadi obsesiku, aku nonton film seperti itu. Terus terang aku baru pertama kali melihat film yang begituan.
Setelah film selesai, Mas Yayan mematikan televisi. Ia lantas berkata,
"Kamu benar - benar cantik. Terus terang aku ingin sekali kita bisa seperti ini sejak kita ketemu."
"Ah Mas bisa aja."
Lantas Mas Yayan menarik kaos ketat yang membungkus rapat tubuhnya itu. Dan terlihatlah oleh mataku, tubuh seksi berotot dan berkeringat yang selama ini aku impikan.
"Oh," desahku.
"Gimana? Kalau mau pegang, pegang aja."
Langsung saja kupegang lengan-lengannya yang kekar itu. Dadanya yang bidang dan perutnya yang seksi. Mataku langsung tertuju kepada puting susunya. Berbulu sangat lebat sekali, membuatku makin dan makin bergairah.
"Ah.. ah.." katanya begitu kupegang dadanya itu.
"Lastri, aku.. aku.. sudah lama tidak merasakan seperti ini bersama istriku."
Mas Yayan lalu menarikku ke depan tubuhnya, "Lepas bajumu!" katanya singkat. Lalu kutelanjangi diriku sepenuhnya. Kudengar decak kagumnya melihat tubuhku yang memang sintal dan aduhai ini. "Las, kamu.. kamu.." Ia langsung menjilati wajahku dan kami pun berciuman lama sekali. Bibirnya begitu seksi dan lidahnya pintar sekali bergoyang-goyang. Sesekali kumisnya yang cukup tebal itu menyentuh lidahku. "Las, jilati seluruh tubuhku yang berkeringat ini!" Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Langsung kujilati dadanya yang bidang itu. Puting susunya yang menjadi tujuan utamaku. Ah benar-benar nikmat rasanya. Lidahku mempermainkan putingnya itu. Kuhisap-hisap dan rasanya enak. Bulu-bulu putingnya itu kukulum berkali-kali hingga kudengar erangannya. Kujilat dan kujilat lagi hingga puas. Setelah itu kujilat bagian tubuhnya yang lain. Dari otot lengannya, ketiaknya yang juga penuh dengan bulu-bulu, perutnya, dan kuperosotkan celananya. Ternyata ia masih memakai celana dalam dan penisnya sudah tegang berat.
Aku tidak membuka celana dalamnya dulu. Biar kupanjangkan waktu yang menggairahkan ini. Kujilati pahanya, kakinya, hingga punggung dan pantatnya. Kujilati hingga tubuhnya benar-benar sudah terlumat oleh lidahku. Ia mengerang-ngerang tak kuat menahan gairah. Aku lalu menarik celana dalamnya keluar. "Las, kulum tititku ini!" desahnya tak teratur. Aku tidak terkejut, dugaanku selama ini benar. Batang kemaluannya itu panjang sekali. Mungkin mencapai 25 cm. Di sekelilingnya ditutupi bulu-bulu kemaluan yang rimbun sekali. Aku lantas menjilat-jilat kepalanya yang sudah keras sekali itu. Kumasukkan ke dalam mulutku dan kutarik keluar lagi. Begitu seirama dengan jari-jariku meraba puttng susunya. Ia benar-benar kegirangan.
Setelah cukup lama aku menikmati penisnya itu, ia pun orgasme. Spermanya sangat banyak sekali. Muncrat langsung ke wajahku. Tak kusia-siakan, kujilati semuanya dan kutelan habis. Ia lagi-lagi tersenyum padaku. Oh pria impianku. Tak berapa lama, ia lalu melumat habis seluruh tubuhku. Payudaraku dijamah dan diremas-remas oleh lengannya itu. Setelah puas menjilatinya, ia pun menjilati vaginaku yang masih perawan. Lalu adegan bersenggama pun dimulai. Penisnya masuk ke dalam vaginaku. Ah benar-benar nikmat. Darah keperawananku keluar. Itu telah menjadi miliknya. Ia benar-benar hebat. Kami mencoba berbagai cara hingga ia dan aku mencapai puncak orgasme berkali-kali. Kami terus dan terus melakukannya hingga tak sadar waktu sudah tengah malam. Kami benar-benar puas.
Akhirnya sejak hari itu, hampir setiap hari aku melakukannya dengan Mas Yayan. Aku tidak lagi tidur di kamar pembantu yang disediakan untukku. Aku selalu tidur di kamarnya, di sampingnya. Aku sadar tugasku sebagai pembantu adalah melayani kebutuhan Mas Yayan apapun yang dia inginkan.
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 April 2014
Sabtu, 19 April 2014
Cerita Dewasa Seks Threesome Sama Pembantu Sendiri
Di sebuah rumah di kota P, terdapat laki-laki muda yang masih single. Pria tersebut bernama Bonsa (samaran). Perawakannya ganteng dan berbody atletis, berkulit putih dan memiliki batang kemaluan yang besar dan panjang, dengan panjang 18 cm dan diameter 5 cm. Dia mempunyai libido sex yang tinggi, tidak jarang melakukan onani sampai setiap hari jika sedang bernafsu. Di rumahnya dia ditemani 3 orang pembatu yang masih muda dan seksi.
Pembantunya semua wanita, yang pertama (dari umur), Mirna asal Malang, umurnya 25 tahun, sudah menikah (suaminya tetap di Malang) dan mempunyai dua orang anak. Walau sudah menikah, tubuhnya masih bagus, body seksi dan kulitnya putih susu. Payudaranya masih kencang, berisi, dan montok dengan ukuran 36B. Lubang kemaluannya masih rapat walau sudah pernah melahirkan 2 anak. Kedua, Marni asal Lumajang, status janda tanpa anak (cerai), umur 19 tahun, tubuhnya tinggi sekitar 175 cm. Bodynya seksi, payudaranya berukuran 36B juga tapi sudah menggantung, alat vitalnya bagus dan sedikit sudah longgar, tapi masih enak, rapih karena bulu kemaluannya dicukur habis. Ketiga, Parni asal Jember, umur 16 tahun belum menikah tapi sudah tidak perawan lagi, tubuhnya biasa dibandingkan dengan yang lain, tetapi sangat menggairahkan. Payudaranya besar berukuran 39A, kulitnya putih dan liang senggamanya masih sempit (baru satu kali melakukan hubungan sex).
Hari kamis Bonsa pulang kerja lebih awal, tetapi dia sampai di rumahnya baru sore hari, karena dia tadi bersama temannya nonton film biru dulu di kantornya (ruangannya). Setelah sampai di rumah, Bonsa ingin langsung masuk kamar untuk melepaskan nafsunya yang terbendung dengan melakukan onani. Tetapi ketika hendak masuk kamar, Bonsa melihat pembantu-pembatunya bersenda gurau dengan menggenakan baju yang seksi, dengan hanya memakai rok mini dan atasannya "you can see". Dia memperhatikan senda gurau pembantunya yang bercanda dengan memegang payudara temannya. Otak Bonsa cepat berpikir kotor, apalagi sudah dari tadi dia sedang bernafsu.
Bonsa berjalan mendekati pembantunya yang berada di taman belakang, dia mengendap-ngendap mendekati Marni yang paling dekat dan membelakangiinya. Setelah dekat, dipeluk tubuh Marni yang berdiri dan langsung bibirnya bergerilya di leher Marni.
"Tuann.. lepaskan Tuan, saya pembantu Tuan.." katanya.
Tapi Bonsa tetap acuh saja dan terus menciumi leher bagian belakang milik Marni, sedangkan yang lain hanya diam saja ketakutan.
"Aug..!" desah Marni saat Bonsa mulai meremas payudara miliknya.
"Kamu semua harus melayaniku, aku sedang ingin bercinta..!" kata Bonsa seraya melepaskan pelukannya tapi tidak melepaskan genggamannya di tangan Marni.
"Tappii.. Tuuan.." jawab mereka ketakutan.
"Tidak ada tapi-tapian.." jawab Bonsa sambil kembali memeluk Marni dan mulai menciumnya.
"Augghh.." desah Marni saat tangan Bonsa menyelinap ke selangkangannya dengan mereka tetap berciuman, sementara Parni dan Mirna hanya melihatnya tanpa berkedip (mungkin sudah terangsang), tangannya pun mulai masuk ke dalam roknya masing-masing.
Ciuman Bonsa mulai turun ke arah payudara milik Marni, dikecupnya payudara Marni walau masih tebungkus BH dan kaosnya, sedangkan tangan Bonsa meremas-remas susunya yang kiri dan tangannya yang satunya sudah berhasil melewati CD-nya.
"Augh.." desah Marni.
Dibuka bajunya dan BH-nya, "Wau besar juga susumu Mar.." kata Bonsa sambil tangannya memainkan susu Marni dan memelintir puting susunya.
"Ah, Tuaan bisaa aja, ayo dong nyusu duluu.. augh..!" jawab Marni sambil mendorong kepala Bonsa higga susunya langsung tertelan mulut Bonsa.
"Augghh.." desah Marni merintih kenikmatan, sedang tangannya Marni masuk ke celana Bonsa dan langsung mengocok batang kejantanan Bonsa.
Dijilat dan dihisap payudara Marni, tangannya meremas serta mempermainkan puting susunya, kadang digigit dan disedot payudara Marni.
"Auughh..!" Marni berteriak kencang saat susunya disedot habis dan tangan Bonsa masuk ke liang senggamanya.
Ciuman Bonsa turun setelah puas menyusu pada Marni, dijilatnya perut Marni dan membuka roknya. Setelah terbuka, terlihat paha putih dan liang senggamanya yang telah basah yang sangat membuat nasfu Bonsa bertambah. Sedangkan Mirna dan Parni sudah telanjang bulat dan melakukan masturbasi sendiri sambil melihat tuannya bercinta dengan temannya.
Diciuminya bibir kemaluan Marni yang masih terbungkus CD.
"Augghh.." desah Marni tidak kuat.
Karena tidak kuat lagi, Marni mendorong kepala Bonsa dan langsung menurunkan CD-nya, setelah itu didorong masuk kepala Bonsa ke liang senggamanya.
"Auughh.. ughh.." desah Bonsa saat lidah Bonsa menjilati bibir kemaluannya.
Lidah Bonsa semakin liar saja, dimasukkan lidahnya ke liang itu dan dijilati semua dinding kemaluan itu tanpa ada sedikitpun yang terlewati. Klitorisnya pun tidak ketinggalan digigit dan dijilati.
"Aauugghh.. aagghh..!" desah Marni.
Lidah Bonsa terus menjilati bagian dalam vagina Marni. Marni mulai mengejang bagai tersambar petir jilatan lidah Bonsa. Tangannya mulai menjabak rambut Bonsa, tapi Bonsa tidak marah dan sebaliknya malah mempercepat jilatan lidahnya.
"Aagghh.. aku mau keeluu.. uuaarr.. Tuua.. an.." rintih Marni.
Dijilati terus Marni dengan lidahnya, dan akhirnya, "Croott.. crroott..!" cairan kental, panas, dan asin keluar dengan deras di lidah Bonsa, dijilati cairan itu dan ditelan Bonsa.
Setelah itu Bonsa berjalan ke arah Parni yang sedang tiduran dan masturbasi. Ditidurinya langsung tubuh Marni, dicium payudaranya yang sudah mengeras. Dijilat dan digigit puting susu Parni dan Parni hanya mendesah saja, tapi tangannya masih di dalam liang kemaluannya. Sedangkan Marni masih menjilati tangannya yang habis membersihkan ciran yang keluar dari lubang senggamanya. Tangan Bonsa bergerak turun membelai semua sudut pahanya dan jilatannya mulai turun dari payudara Parni.
Setelah puas menjilati bagian bawah dari payudara Parni (perut dan sekitarnya), Bonsa mulai memasukkan lidahnya ke liang kemaluan Parni yang sudah banjir.
"Aaugghh..!" desah Parni ketika lidah Bonsa menjilati dinding kemaluannya.
Tangan Parni meremas susunya sendiri menahan geli dan nikmat, dipelintir-pelintir sendiri puting susunya. Lidah Bonsa ditarik keluar dan digantikan tangannya, langsung masuk tiga jari sekaligus dan mulutnya beraksi lagi di susu Parni.
"Auugghh.. aagghh.. ugghh.. ugh..!" desah Parni yang bergerak ke kanan ke kiri, menahan nikmat yang luar biasa.
"Aagghh.. Parni.., mau.. kee.. luar Tuaa.. ann..!" teriak Parni sambil memasukkan tangannya ke liang senggamanya.
Dengan maksud membantu mempercepat keluar karena Bonsa mengetahui Parni mau keluar, tangan Bonsa diganti dengan lidahnya dan tangannya memelintir serta meremas payudara Parni.
"Aaaghh.. Parni.. keluu.. uarr..! Croott.. ccrroott..!" cairan panas membasahi lagi lidah Bonsa dan langsung Bonsa bersihkan serta menelannya (prinsip Bonsa menelan cairan dari kemaluan wanita adalah dapat membuat awet muda). Parni lemas sekitika, dia hanya meremas pelan buah dadanya, dan Bonsa mengecup bibir Parni.
Kemudian Bonsa bergerak ke Mirna yang sedang berciuman dengan Marni temannya. Kaki Mirna sudah terbuka lebar dan terlihat lubang kemaluannya yang merah menyala, memperlihatkan banjir oleh cairan kental. Tangan Mirna terus meremas-remas payudara Marni dan demikian sebaliknya. Karena sudah terbuka kaki Mirna, maka Bonsa berlutut dan langsung menancapkan lidahnya ke liang milik Mirna.
"Agghh..!" desah Mirna saat lidah Bonsa sudah menjilati liangnya dan juga menghisap klitorisnya.
Mirna dan Marni terus berciuman, sedangkan Parni melakukan masturbasi lagi.
Bonsa terus menjilati dan memasukkan tanganya ke kemaluan Mirna, dijilat dan dihisap terus sampai Mirna berhenti berciuman dan mengejang. Tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri. Tangan Marni meremas susu Mirna, dan mulutnya menjilati susunya yang sebelah lagi, sedangkan tangannya masuk ke kemaluannya sendiri sambil dimaju-mundurkan.
"Aagh.. uugghh.. saya mau.. keluar Tuu.. ann..!" jerit Mirna, dan Bonsa masih terus menjilati dengan cepat dan terus bertambah cepat.
"Ccrrott.. ccrroott..!" keluar cairan panas membasahi lidah dan wajah Bonsa lagi, dan seperti sebelumnya, dijilati dan ditelan cairan yang keluar dari kemaluan Mirna.
Setelah selesai menjilati kemaluan Mirna, Bonsa menarik tangan Marni dan menyuruhnya berposisi nungging atau doggy style. Dipukul pantat Marni dengan batang kejantanannya dan tangannya meremas susu Marni agar membangkitkan rangsangan lagi. Setelah terlihat merekah lubang kemaluan Marni, batang keperkasaan Bonsa pun langsung ditancapkan ke vagina Marni.
"Aaagghh..!" desah Marni saat batang kejantanan Bonsa masuk semua ke lubang senggamanya.
Bonsa pun mulai memompa secara teratur dan stabil, diselingi hentakan-hentakan yang tiba-tiba,"Aaagghh..!" desah Marni.
Bonsa terus memompa dan sekarang mulai bertambah cepat, karena melihat Marni yang kepalanya mendangak ke atas dan berteriak semakin keras mengucapkan kata-kata kotor.
"Agghh.. Tuan, rudal Tuan ennakk banget.. Saya mau keluar Tuu.. an..!" teriak Marni yang malah mempercepat sodokan Bonsa ke liang senggamanya.
"Aagh.. saya keluu.. arr..!" tubuh Marni mengejang dan cairan keluar membasahi batang kemaluan Bonsa, terasa panas cairan tersebut.
Dan setelah selesai, Bonsa mencium punggung Marni dan berkata, "Liang kamu juga enak, kapan-kapan layani tuan lagi ya..?"
Marni hanya diam berbaring di rumput dan tangannya meremas susunya sendiri.
Bonsa merangkak ke arah Parni yang duduk dan sedang masturbasi sendiri, sedangkan Mirna sedang menikmati jilatan lidah Marni yang bangun lagi ke kemaluannya. Diacungkan batang keperkasaan Bonsa ke arah Parni dan disuruh memasukkan ke mulutnya. Parni langsung menyambar batang kemaluan tuannya dan mulai menjilati serta memasukkan ke mulutnya.
"Aagghh..!" desah Bonsa, "Kamu hebat juga ya kalau ngemut beginian..!" kata Bonsa memuji hisapan pembantunya.
Parni memang ahli, dia menjilat dari ujung sampai ke buah zakar tuannya, kadang dimasukkan semua batang tuannya ke mulutnya dan disedot serta dimaju-mundurkan mulutnya. Setelah puas dengan kepunyaan tuannya, Parni meminta tuannya memasukkan keperkasaannya ke lubang kenikmatannya. Bonsa berbaring di rumput dan menyuruh Parni berada di atasnya. Parni menuntun batang kejantanan tuannya ke liangnya dalam posisi dia duduk di atas tuannya.
"Aggh..!" desah Bonsa dan Parni saat kejantanan Bonsa masuk ke liang Parni.
Bonsa mendorong pinggulnya untuk menekan kemaluannya masuk dan Parni menggoyangkan pinggangnya agar batang tuannya bisa maraba semua bagian dalam vaginanya. Naik turun dan bergoyang memutar Parni untuk mengimbangi sodokan liar tuannya. Tangan Bonsa pun meremas susu Parni yang bergoyang mengikuti gerakan Parni.
"Agghh.. uuggkkhh..!" desah Parni.
Parni pun terus berteriak mengeluarkan kata-kata kotor dan mendesah ketika dia merasa sudah mau keluar.
"Aaghh.. ruu.. dall.. Tuan.. enak, saya.. mau.. keluarr..! Enakk..!"
Bonsa mempercepat gerakannya dan demikian juga Parni.
"Croott.. croott.." keluar cairan panas yang kali ini lebih panas dari milik Marni ke batang kemaluan Bonsa.
"Kamu hebat Parni.." kata Bonsa sambil mengecup susu Parni.
"Aghh.. Tuan juga hebat, kontol Tuan enak..!"
Bonsa menarik Mirna yang menjilati bibir kemaluan Marni dan digantikan Parni. Setelah mengistirahatkan kemaluannya, Bonsa menyuruh Marni menjilati dan menyedot rudalnya agar berdiri kembali. Dan setelah berdiri, maka Bonsa memasukkan batang kejantanannya ke lubang kenikmatan Mirna dalam posisi tiduran (Mirna di bawah dan Bonsa di atas menindih).
"Agghh..!" desah Marni saat batang kemaluan tuannya baru masuk setengah.
"Rapet banget lubangmu Mir..!" kata Bonsa ketika agak kesulitan memasukkan seluruh batang kemaluannya.
Dihentakkan dan disodok rudal Bonsa ke pembatunya, dan secara spontan Mirna berteriak merintih kesakitan karena milik tuannya terlalu besar dan dimasukkan secara paksa.
"Aaghh.. iighh..!" teriak Mirna.
Bonsa mendiamkan sebentar rudalnya yang telah masuk ke kemaluan Mirna. Setelah itu mulai dipompa pelan dan semakin lama semakin cepat.
"Aghh.. uugghh.. koonn.. tooll Tuaann.. enakk..!" teriak Mirna saat sodokan Bonsa mulai tambah cepat dan mulut tuannya menghisap susunya.
Bonsa terus menghisap dan memompa cepat rudalnya, dan Mirna mulai bergerak ke kiri ke kanan dan kemaluannya secara spontan mulai menjepit rudal tuannya yang berada di dalam sarangnya.
"Aaaghh, sayaa.. keluarr.. uughh.. ughh..!" Mirna menjerit kencang tidak beraturan karena nafasnya mulai kehabisan menahan kenikmatan sodokan batang rudal tuannya.
Akhirnya, "Crroott.. ccrroott..!" keluarlah cairan panas ke kemaluan Bonsa, dan cairannya sangat banyak hingga keluar mengalir dari liang senggamanya.
"Boleh juga memek kamu dan susu kamu, nanti malam ke kamarku..!" kata Bonsa setelah mengecup bibir kemaluan Mirna yang sudah banjir dan masih mengeluarkan cairan.
"Ah Tuan bisa aja, memang saya hebat..? Nanti malam saya akan jadi pembatu sexx tuan, dan saya berikan layanan super special dari memek saya ini, Tuan.."
Karena masih berdiri tegak dan masih belum ejakulasi, maka Bonsa menyuruh pembantunya bertiga untuk menghisap dan menjilat kemaluannya sampai mengeluarkan sperma. Marni, Parni dan Mirna berebutan menghisap dan memasukkan batang kemaluan tuannya ke mulut mereka. Bonsa sudah merasa mau keluar dan ditariknya kemaluannya sambil mulai mengocok dengan cepat di hadapan wajah pembantu-pembantunya.
"Aaaghh..!" desah Bonsa saat dia mengeluarkan beban sex-nya yang ada di alat vitalnya.
Semburan sperma tadi mengenai wajah Mirna, Parni dan Marni. Karena sperma yang dikeluarkan sangat banyak, maka sampai mengalir ke susu mereka bertiga. Bonsa menyuruh Parni membersihkan sisa sperma di batang kejantanannya dengan mulut Parni, sedangkan Parni membersihkan kemaluan tuannya. Yang lainnya menjilati dan menelan sperma yang mengalir dan menempel di mulut, wajah, dan susu mereka masing-masing.
Setelah selesai, Bonsa berkata, "Kalian semua hebat dan terima kasih atas pelayanan kalian. Kalian akan mendapatkan bonusku setiap akhir minggu atau semau kalian atau saya. Dan Mirna, jangan lupa nanti malam..!"
Bonsa berrjalan mengambil pakaiannya dan masuk ke dalam untuk mandi.
"Terimah kasih Tuan telah memuaskan kami, dan kami akan mengambil bonus Tuan." jawab pembantu Bonsa ketika melihat tuannya masuk ke rumah.
Mereka bertiga saling mencumbu, dan setelah itu masuk dan mandi bertiga.
Demikianlah pengalaman sex Bonsa dan pembantunya yang masih berlangsung sampai sekarang, walaupun Bonsa sekarang sudah mempunyai istri dan dua orang anak laki-laki. Mungkin anak laki-lakinya meneruskan perilaku ayahnya.
Pembantunya semua wanita, yang pertama (dari umur), Mirna asal Malang, umurnya 25 tahun, sudah menikah (suaminya tetap di Malang) dan mempunyai dua orang anak. Walau sudah menikah, tubuhnya masih bagus, body seksi dan kulitnya putih susu. Payudaranya masih kencang, berisi, dan montok dengan ukuran 36B. Lubang kemaluannya masih rapat walau sudah pernah melahirkan 2 anak. Kedua, Marni asal Lumajang, status janda tanpa anak (cerai), umur 19 tahun, tubuhnya tinggi sekitar 175 cm. Bodynya seksi, payudaranya berukuran 36B juga tapi sudah menggantung, alat vitalnya bagus dan sedikit sudah longgar, tapi masih enak, rapih karena bulu kemaluannya dicukur habis. Ketiga, Parni asal Jember, umur 16 tahun belum menikah tapi sudah tidak perawan lagi, tubuhnya biasa dibandingkan dengan yang lain, tetapi sangat menggairahkan. Payudaranya besar berukuran 39A, kulitnya putih dan liang senggamanya masih sempit (baru satu kali melakukan hubungan sex).
Hari kamis Bonsa pulang kerja lebih awal, tetapi dia sampai di rumahnya baru sore hari, karena dia tadi bersama temannya nonton film biru dulu di kantornya (ruangannya). Setelah sampai di rumah, Bonsa ingin langsung masuk kamar untuk melepaskan nafsunya yang terbendung dengan melakukan onani. Tetapi ketika hendak masuk kamar, Bonsa melihat pembantu-pembatunya bersenda gurau dengan menggenakan baju yang seksi, dengan hanya memakai rok mini dan atasannya "you can see". Dia memperhatikan senda gurau pembantunya yang bercanda dengan memegang payudara temannya. Otak Bonsa cepat berpikir kotor, apalagi sudah dari tadi dia sedang bernafsu.
Bonsa berjalan mendekati pembantunya yang berada di taman belakang, dia mengendap-ngendap mendekati Marni yang paling dekat dan membelakangiinya. Setelah dekat, dipeluk tubuh Marni yang berdiri dan langsung bibirnya bergerilya di leher Marni.
"Tuann.. lepaskan Tuan, saya pembantu Tuan.." katanya.
Tapi Bonsa tetap acuh saja dan terus menciumi leher bagian belakang milik Marni, sedangkan yang lain hanya diam saja ketakutan.
"Aug..!" desah Marni saat Bonsa mulai meremas payudara miliknya.
"Kamu semua harus melayaniku, aku sedang ingin bercinta..!" kata Bonsa seraya melepaskan pelukannya tapi tidak melepaskan genggamannya di tangan Marni.
"Tappii.. Tuuan.." jawab mereka ketakutan.
"Tidak ada tapi-tapian.." jawab Bonsa sambil kembali memeluk Marni dan mulai menciumnya.
"Augghh.." desah Marni saat tangan Bonsa menyelinap ke selangkangannya dengan mereka tetap berciuman, sementara Parni dan Mirna hanya melihatnya tanpa berkedip (mungkin sudah terangsang), tangannya pun mulai masuk ke dalam roknya masing-masing.
Ciuman Bonsa mulai turun ke arah payudara milik Marni, dikecupnya payudara Marni walau masih tebungkus BH dan kaosnya, sedangkan tangan Bonsa meremas-remas susunya yang kiri dan tangannya yang satunya sudah berhasil melewati CD-nya.
"Augh.." desah Marni.
Dibuka bajunya dan BH-nya, "Wau besar juga susumu Mar.." kata Bonsa sambil tangannya memainkan susu Marni dan memelintir puting susunya.
"Ah, Tuaan bisaa aja, ayo dong nyusu duluu.. augh..!" jawab Marni sambil mendorong kepala Bonsa higga susunya langsung tertelan mulut Bonsa.
"Augghh.." desah Marni merintih kenikmatan, sedang tangannya Marni masuk ke celana Bonsa dan langsung mengocok batang kejantanan Bonsa.
Dijilat dan dihisap payudara Marni, tangannya meremas serta mempermainkan puting susunya, kadang digigit dan disedot payudara Marni.
"Auughh..!" Marni berteriak kencang saat susunya disedot habis dan tangan Bonsa masuk ke liang senggamanya.
Ciuman Bonsa turun setelah puas menyusu pada Marni, dijilatnya perut Marni dan membuka roknya. Setelah terbuka, terlihat paha putih dan liang senggamanya yang telah basah yang sangat membuat nasfu Bonsa bertambah. Sedangkan Mirna dan Parni sudah telanjang bulat dan melakukan masturbasi sendiri sambil melihat tuannya bercinta dengan temannya.
Diciuminya bibir kemaluan Marni yang masih terbungkus CD.
"Augghh.." desah Marni tidak kuat.
Karena tidak kuat lagi, Marni mendorong kepala Bonsa dan langsung menurunkan CD-nya, setelah itu didorong masuk kepala Bonsa ke liang senggamanya.
"Auughh.. ughh.." desah Bonsa saat lidah Bonsa menjilati bibir kemaluannya.
Lidah Bonsa semakin liar saja, dimasukkan lidahnya ke liang itu dan dijilati semua dinding kemaluan itu tanpa ada sedikitpun yang terlewati. Klitorisnya pun tidak ketinggalan digigit dan dijilati.
"Aauugghh.. aagghh..!" desah Marni.
Lidah Bonsa terus menjilati bagian dalam vagina Marni. Marni mulai mengejang bagai tersambar petir jilatan lidah Bonsa. Tangannya mulai menjabak rambut Bonsa, tapi Bonsa tidak marah dan sebaliknya malah mempercepat jilatan lidahnya.
"Aagghh.. aku mau keeluu.. uuaarr.. Tuua.. an.." rintih Marni.
Dijilati terus Marni dengan lidahnya, dan akhirnya, "Croott.. crroott..!" cairan kental, panas, dan asin keluar dengan deras di lidah Bonsa, dijilati cairan itu dan ditelan Bonsa.
Setelah itu Bonsa berjalan ke arah Parni yang sedang tiduran dan masturbasi. Ditidurinya langsung tubuh Marni, dicium payudaranya yang sudah mengeras. Dijilat dan digigit puting susu Parni dan Parni hanya mendesah saja, tapi tangannya masih di dalam liang kemaluannya. Sedangkan Marni masih menjilati tangannya yang habis membersihkan ciran yang keluar dari lubang senggamanya. Tangan Bonsa bergerak turun membelai semua sudut pahanya dan jilatannya mulai turun dari payudara Parni.
Setelah puas menjilati bagian bawah dari payudara Parni (perut dan sekitarnya), Bonsa mulai memasukkan lidahnya ke liang kemaluan Parni yang sudah banjir.
"Aaugghh..!" desah Parni ketika lidah Bonsa menjilati dinding kemaluannya.
Tangan Parni meremas susunya sendiri menahan geli dan nikmat, dipelintir-pelintir sendiri puting susunya. Lidah Bonsa ditarik keluar dan digantikan tangannya, langsung masuk tiga jari sekaligus dan mulutnya beraksi lagi di susu Parni.
"Auugghh.. aagghh.. ugghh.. ugh..!" desah Parni yang bergerak ke kanan ke kiri, menahan nikmat yang luar biasa.
"Aagghh.. Parni.., mau.. kee.. luar Tuaa.. ann..!" teriak Parni sambil memasukkan tangannya ke liang senggamanya.
Dengan maksud membantu mempercepat keluar karena Bonsa mengetahui Parni mau keluar, tangan Bonsa diganti dengan lidahnya dan tangannya memelintir serta meremas payudara Parni.
"Aaaghh.. Parni.. keluu.. uarr..! Croott.. ccrroott..!" cairan panas membasahi lagi lidah Bonsa dan langsung Bonsa bersihkan serta menelannya (prinsip Bonsa menelan cairan dari kemaluan wanita adalah dapat membuat awet muda). Parni lemas sekitika, dia hanya meremas pelan buah dadanya, dan Bonsa mengecup bibir Parni.
Kemudian Bonsa bergerak ke Mirna yang sedang berciuman dengan Marni temannya. Kaki Mirna sudah terbuka lebar dan terlihat lubang kemaluannya yang merah menyala, memperlihatkan banjir oleh cairan kental. Tangan Mirna terus meremas-remas payudara Marni dan demikian sebaliknya. Karena sudah terbuka kaki Mirna, maka Bonsa berlutut dan langsung menancapkan lidahnya ke liang milik Mirna.
"Agghh..!" desah Mirna saat lidah Bonsa sudah menjilati liangnya dan juga menghisap klitorisnya.
Mirna dan Marni terus berciuman, sedangkan Parni melakukan masturbasi lagi.
Bonsa terus menjilati dan memasukkan tanganya ke kemaluan Mirna, dijilat dan dihisap terus sampai Mirna berhenti berciuman dan mengejang. Tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri. Tangan Marni meremas susu Mirna, dan mulutnya menjilati susunya yang sebelah lagi, sedangkan tangannya masuk ke kemaluannya sendiri sambil dimaju-mundurkan.
"Aagh.. uugghh.. saya mau.. keluar Tuu.. ann..!" jerit Mirna, dan Bonsa masih terus menjilati dengan cepat dan terus bertambah cepat.
"Ccrrott.. ccrroott..!" keluar cairan panas membasahi lidah dan wajah Bonsa lagi, dan seperti sebelumnya, dijilati dan ditelan cairan yang keluar dari kemaluan Mirna.
Setelah selesai menjilati kemaluan Mirna, Bonsa menarik tangan Marni dan menyuruhnya berposisi nungging atau doggy style. Dipukul pantat Marni dengan batang kejantanannya dan tangannya meremas susu Marni agar membangkitkan rangsangan lagi. Setelah terlihat merekah lubang kemaluan Marni, batang keperkasaan Bonsa pun langsung ditancapkan ke vagina Marni.
"Aaagghh..!" desah Marni saat batang kejantanan Bonsa masuk semua ke lubang senggamanya.
Bonsa pun mulai memompa secara teratur dan stabil, diselingi hentakan-hentakan yang tiba-tiba,"Aaagghh..!" desah Marni.
Bonsa terus memompa dan sekarang mulai bertambah cepat, karena melihat Marni yang kepalanya mendangak ke atas dan berteriak semakin keras mengucapkan kata-kata kotor.
"Agghh.. Tuan, rudal Tuan ennakk banget.. Saya mau keluar Tuu.. an..!" teriak Marni yang malah mempercepat sodokan Bonsa ke liang senggamanya.
"Aagh.. saya keluu.. arr..!" tubuh Marni mengejang dan cairan keluar membasahi batang kemaluan Bonsa, terasa panas cairan tersebut.
Dan setelah selesai, Bonsa mencium punggung Marni dan berkata, "Liang kamu juga enak, kapan-kapan layani tuan lagi ya..?"
Marni hanya diam berbaring di rumput dan tangannya meremas susunya sendiri.
Bonsa merangkak ke arah Parni yang duduk dan sedang masturbasi sendiri, sedangkan Mirna sedang menikmati jilatan lidah Marni yang bangun lagi ke kemaluannya. Diacungkan batang keperkasaan Bonsa ke arah Parni dan disuruh memasukkan ke mulutnya. Parni langsung menyambar batang kemaluan tuannya dan mulai menjilati serta memasukkan ke mulutnya.
"Aagghh..!" desah Bonsa, "Kamu hebat juga ya kalau ngemut beginian..!" kata Bonsa memuji hisapan pembantunya.
Parni memang ahli, dia menjilat dari ujung sampai ke buah zakar tuannya, kadang dimasukkan semua batang tuannya ke mulutnya dan disedot serta dimaju-mundurkan mulutnya. Setelah puas dengan kepunyaan tuannya, Parni meminta tuannya memasukkan keperkasaannya ke lubang kenikmatannya. Bonsa berbaring di rumput dan menyuruh Parni berada di atasnya. Parni menuntun batang kejantanan tuannya ke liangnya dalam posisi dia duduk di atas tuannya.
"Aggh..!" desah Bonsa dan Parni saat kejantanan Bonsa masuk ke liang Parni.
Bonsa mendorong pinggulnya untuk menekan kemaluannya masuk dan Parni menggoyangkan pinggangnya agar batang tuannya bisa maraba semua bagian dalam vaginanya. Naik turun dan bergoyang memutar Parni untuk mengimbangi sodokan liar tuannya. Tangan Bonsa pun meremas susu Parni yang bergoyang mengikuti gerakan Parni.
"Agghh.. uuggkkhh..!" desah Parni.
Parni pun terus berteriak mengeluarkan kata-kata kotor dan mendesah ketika dia merasa sudah mau keluar.
"Aaghh.. ruu.. dall.. Tuan.. enak, saya.. mau.. keluarr..! Enakk..!"
Bonsa mempercepat gerakannya dan demikian juga Parni.
"Croott.. croott.." keluar cairan panas yang kali ini lebih panas dari milik Marni ke batang kemaluan Bonsa.
"Kamu hebat Parni.." kata Bonsa sambil mengecup susu Parni.
"Aghh.. Tuan juga hebat, kontol Tuan enak..!"
Bonsa menarik Mirna yang menjilati bibir kemaluan Marni dan digantikan Parni. Setelah mengistirahatkan kemaluannya, Bonsa menyuruh Marni menjilati dan menyedot rudalnya agar berdiri kembali. Dan setelah berdiri, maka Bonsa memasukkan batang kejantanannya ke lubang kenikmatan Mirna dalam posisi tiduran (Mirna di bawah dan Bonsa di atas menindih).
"Agghh..!" desah Marni saat batang kemaluan tuannya baru masuk setengah.
"Rapet banget lubangmu Mir..!" kata Bonsa ketika agak kesulitan memasukkan seluruh batang kemaluannya.
Dihentakkan dan disodok rudal Bonsa ke pembatunya, dan secara spontan Mirna berteriak merintih kesakitan karena milik tuannya terlalu besar dan dimasukkan secara paksa.
"Aaghh.. iighh..!" teriak Mirna.
Bonsa mendiamkan sebentar rudalnya yang telah masuk ke kemaluan Mirna. Setelah itu mulai dipompa pelan dan semakin lama semakin cepat.
"Aghh.. uugghh.. koonn.. tooll Tuaann.. enakk..!" teriak Mirna saat sodokan Bonsa mulai tambah cepat dan mulut tuannya menghisap susunya.
Bonsa terus menghisap dan memompa cepat rudalnya, dan Mirna mulai bergerak ke kiri ke kanan dan kemaluannya secara spontan mulai menjepit rudal tuannya yang berada di dalam sarangnya.
"Aaaghh, sayaa.. keluarr.. uughh.. ughh..!" Mirna menjerit kencang tidak beraturan karena nafasnya mulai kehabisan menahan kenikmatan sodokan batang rudal tuannya.
Akhirnya, "Crroott.. ccrroott..!" keluarlah cairan panas ke kemaluan Bonsa, dan cairannya sangat banyak hingga keluar mengalir dari liang senggamanya.
"Boleh juga memek kamu dan susu kamu, nanti malam ke kamarku..!" kata Bonsa setelah mengecup bibir kemaluan Mirna yang sudah banjir dan masih mengeluarkan cairan.
"Ah Tuan bisa aja, memang saya hebat..? Nanti malam saya akan jadi pembatu sexx tuan, dan saya berikan layanan super special dari memek saya ini, Tuan.."
Karena masih berdiri tegak dan masih belum ejakulasi, maka Bonsa menyuruh pembantunya bertiga untuk menghisap dan menjilat kemaluannya sampai mengeluarkan sperma. Marni, Parni dan Mirna berebutan menghisap dan memasukkan batang kemaluan tuannya ke mulut mereka. Bonsa sudah merasa mau keluar dan ditariknya kemaluannya sambil mulai mengocok dengan cepat di hadapan wajah pembantu-pembantunya.
"Aaaghh..!" desah Bonsa saat dia mengeluarkan beban sex-nya yang ada di alat vitalnya.
Semburan sperma tadi mengenai wajah Mirna, Parni dan Marni. Karena sperma yang dikeluarkan sangat banyak, maka sampai mengalir ke susu mereka bertiga. Bonsa menyuruh Parni membersihkan sisa sperma di batang kejantanannya dengan mulut Parni, sedangkan Parni membersihkan kemaluan tuannya. Yang lainnya menjilati dan menelan sperma yang mengalir dan menempel di mulut, wajah, dan susu mereka masing-masing.
Setelah selesai, Bonsa berkata, "Kalian semua hebat dan terima kasih atas pelayanan kalian. Kalian akan mendapatkan bonusku setiap akhir minggu atau semau kalian atau saya. Dan Mirna, jangan lupa nanti malam..!"
Bonsa berrjalan mengambil pakaiannya dan masuk ke dalam untuk mandi.
"Terimah kasih Tuan telah memuaskan kami, dan kami akan mengambil bonus Tuan." jawab pembantu Bonsa ketika melihat tuannya masuk ke rumah.
Mereka bertiga saling mencumbu, dan setelah itu masuk dan mandi bertiga.
Demikianlah pengalaman sex Bonsa dan pembantunya yang masih berlangsung sampai sekarang, walaupun Bonsa sekarang sudah mempunyai istri dan dua orang anak laki-laki. Mungkin anak laki-lakinya meneruskan perilaku ayahnya.
Cerita Dewasa Bercinta sama Teman Istriku
Nama saya Heru, saya sudah married dan punya anak satu. Umur saya saat ini 28 tahun, isteri saya juga seumur, namanya Lisa. Anak saya baru umur 3 tahun, dan dia baru masuk Playgroup. Nah, di sekolahan anak saya inilah, isteri saya kenal sama nyokapnya teman anak saya. Namanya Nita. Sebenarnya si Nita ini orangnya nggak cakep-cakep amat, yah, lumayan-lah. Menurut saya sih, mendingan isteri saya.
Makanya, sewaktu kenalan sama si Nita ini, saya sama sekali nggak ada pikiran yang macam-macam. Sampai lama-kelamaan isteri saya mulai akrab sama si Nita. Mereka sering pergi sama-sama. Nah, suatu hari, si Nita telpon isteri saya buat ngasih tahu bahwa dia sekeluarga lagi dapat voucher menginap satu malam di sebuah Hotel bintang lima di Jakarta. Dia suruh isteri saya datang buat mencoba fasilitas-fasilitas yang disediakan hotel tersebut. Nah, karena ada kesempetan buat berenang, fitness dan lain-lain gratis, maka saya berdua nggak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Siangnya saya berdua nyusul ke hotel tersebut. Sesampainya di sana, saya berdua langsung menuju ke kolam renang, karena si Nita sudah janjian nunggu disitu. benar aja, begitu ngeliat saya berdua datang, si Nita langsung manggil-manggil sambil melambaikan tangannya.
"Hai Lis, Her.. "
"Hai Nit.. Mana suami sama anak kamu?" tanya isteri saya.
"Biasa, dua-duanya lagi tidur siang tuh.." kata si Nita.
"Kamu berdua aja.. Mana anak kamu?"
"Nggak ikut deh, Nit.. Abisnya repot kalau ngajak anak kecil" kataku.
"Ya sudah, sekarang gimana, kamu berdua mau berenang nggak? Atau mau Fitness aja?"
"Langsung Fitness aja deh, Nit"
Begitulah, setelah itu kita bertiga langsung menuju ke tempat Fitnessnya. Dan setelah ganti baju di locker room, kita bertiga mulai berfitnes-ria. Asyik juga sih, sampai-sampai nggak terasa sudah hampir tiga jam kita fitness. Wah, badan rasanya sudah capek benar nih. Setelah selesai kita bertiga terus bilas di ruang ganti, dan langsung menuju ke ruang Whirlpool. Nah, sampai disini kita bertiga bingung, sebab ruang whirpoolnya ternyata cuma satu. Wah gimana nih? Tapi akhirnya kita coba-coba aja, dan ternyata benar, cewek sama cowok jadi satu ruangannya. Wah, malu juga nih.. Apalagi si Nita, soalnya kita bertiga cuma dililit sama kain handuk. Setelah masuk ke dalam, saya tertegun, karena di dalam saya lihat ada cewek yang dengan santainya lagi jalan mondar-mandir dalam keadaan.. Bugil. Wah.. Gawat nih. Setelah saya lirik, ternyata si Nita juga lagi ngeliatin tuh cewek yang kesannya cuek banget. Selagi kita bertiga bengong-bengong, tahu-tahu kita disamperin sama locker-girlnya.
"Mari Mbak, Mas.. Handuknya saya simpan," kata si Mbak locker itu dengan suara yang halus.
"Ha? Disimpan?" tanya saya sambil kebingungan.
"Hi-hi-hi.. Iya, Mas, memang begitu peraturannya.. Biar air kolamnya nggak kotor.. " sahut si Mbak dengan senyum genit.
"Wah.. Mati deh saya", batin saya dalem hati, masa saya musti berbugil ria di depan satu, dua, tiga.. Empat orang cewek sih? Sementara itu saya liat isteri saya sama si Nita juga lagi saling pandang kebingungan. Akhirnya saya yang memutuskan,
"Hm.. Gini deh, Mbak.. Kita liat-liat aja dulu.. Nanti kalau mau berendam baru kita taruh handuknya di sini"
"Iya deh, Mas.." kata si Mbak lagi sambil tersenyum genit. Terus dia langsung berbalik jalan keluar ruangan.
Setelah tinggal bertiga, isteri saya langsung memandang si Nita,
"Gimana nih, Nit?"
Selagi si Nita masih terdiam bingung, isteri saya langsung ngomong lagi,
"Ya sudah deh.. Kita terusin aja yuk," katanya sambil melepaskan handuknya.
"Sudah deh, Nit.. Buka aja.. nggak apa-apa kok," kata isteri saya lagi.
"Benar nih, Lis? Terus si Heru gimana?" tanya si Nita sambil melirik malu-malu ke arah saya.
Pada saat itu saya cuma bisa pasrah aja, dan berdoa moga-moga burung saya nggak sampai bangun. Sebab kalau bangun kan gawat, si Nita bisa tahu karena saya cuma dililit handuk doang.
"Nggak apa-apa.. Anggap saja kita kasih dia tontonan gratis" sahut isteri saya lagi.
Gawat juga nih, saya benar-benar nggak nyangka kalau isteri saya sebaik ini. Sebab biasanya dia cemburuan banget. Akhirnya pelan-pelan si Nita mau juga ngelepasin handuknya. Aduh mak.. Begitu dia lepas handuknya, saya langsung bisa ngeliat dua buah teteknya yang membulat.. dan.. jembutnya yang.. gile.. lebat banget! Langsung aja saya menelan ludah saya sendiri.. sambil menatap bengong ke tubuh si Nita. Ngelihat keadaan saya yang kayak orang linglung itu, isteri saya langsung tertawa geli. Sementara si Nita masih berusaha menutupi vaginanya dengan kedua tangannya.
"Kenapa Her.. Jangan bengong gitu dong, sekarang kamu yang musti buka handuk tuh," kata isteri saya lagi.
Busyet.. Masa saya disuruh bugil di depan si Nita sih? Tapi karena takut kalau-kalau nanti isteri saya berubah pikiran, langsung aja deh saya lepas handuk saya. Seiring dengan gerakan saya ngelepas handuk, saya lihat si Nita langsung membuang muka jengah.
"Lho, kenapa Nit.. nggak apa-apa kok.. Tadi si Heru juga ngeliatin body kamu, sampai terangsang tuh.. Lihat deh," kata isteri saya lagi sambil menatap burung saya. Akhirnya si Nita ngelirik juga ke burung saya, dan.. Wah.. dasar burung kurang ajar, begitu diliatin dua orang cewek, perlahan tapi pasti dia mulai bangkit. Pelan-pelan mengangguk-angguk, sampai akhirnya benar-benar tegang setegang-tegangnya. Wah, mokal banget deh, saya..
"Tuh-kan, Nit.. Benarkan dia sudah terangsang ngeliatin body kamuy.." kata isteri saya lagi. Ngeliat burung saya yang sudah tegang benar, akhirnya dua-duanya nggak tahan lagi. Pada tertawa terpingkal-pingkal. Ngedenger suara ketawa mereka, cewek yang sendirian tadi langsung nengok.. dan begitu ngeliat burung saya, dia juga langsung ikut ketawa.
"Wah, dik.. Dia sudah nggak tahan tuh.." katanya pada isteri saya, sambil ngelirikin burung saya terus. Akhirnya daripada terus jadi bahan tertawaan, langsung aja deh, saya nyebur ke kolam whirpool. Nggak lama kemudian isteri saya dan si Nita nyusul. Akhirnya kita berempat berendam deh di kolam. Tapi nggak lama kemudian si Cewek itu bangun..
"Mbak sudahan dulu yah, Dik.. Mmm.. Tapi jangan disia-siakan tuh.." katanya sambil menunjuk ke selangkangan saya lagi. Buset nih cewek, rupanya dari tadi dia merhatiin kalau burung saya masih tegang terus.
Langsung saja saya berusaha tutupin burung saya pakai kedua telapak tangan. Sambil tersenyum genit, akhirnya cewek itu keluar ruangan. Nah, begitu tinggal kita bertiga, isteri saya langsung pindah posisi. Sekarang jadi saya yang ada ditengah-tengah mereka berdua.
"Her.. Dari tadi kok tegang melulu sih?" tanya isteri saya sambil menggenggam burung saya. Saya cuma bisa menggeleng saja sambil melirik si Nita.
"Ih.. Keras amat, kayak batu," kata isteri saya lagi. Lalu, tanpa saya duga dia langsung ngomong ke si Nita.
"Sini deh, Nit.. Mau cobain megang burung suami saya nggak nih?"
Haa? Saya sama si Nita jadi terbengong-bengong.
"Bbb.. Boleh, Lis?" tanya si Nita.
"Boleh, rasain deh.. Keras banget tuh," kata isteri saya lagi. Pelan-pelan, si Nita mulai ngegerayangin paha saya, makin lama makin naik, sampai akhirnya kepegang juga deh, torpedo saya. Wuih, rasanya benar-benar nikmat.
"Iya lho, Lis.. Kok bisa keras begini ya. Pasti enak sekali kalau dimasukin yah, Lis," kata si Nita lagi sambil terus mengelus-ngelus burung saya. Wah, saya sudah nggak tahan, tanpa minta persetujuan isteri saya lagi, langsung aja deh, saya tarik si Nita, saya lumat bibirnya.. sambil tangan saya meremas-remas teteknya.
"Akh.." Nita menggelinjang. Langsung saya angkat si Nita dari dalam air, saya dudukin di pinggiran kolam.. Kakinya saya buka lebar-lebar, dan.. langsung deh saya benamin wajah saya ke dalam selangkangannya, sehingga si Nita semakin mengerang-ngerang. Sementara itu isteri saya tetap giat mengocok-ngocok burung saya. Akhirnya karena sudah nggak tahan lagi, kita bertiga naik ke pinggiran kolam.
"Gantian dong, Nit.. Biar si Heru ngejilatin vagina saya, saya juga kepengen nih.." kata isteri saya dengan bernafsu. Karena dia sudah memelas begitu, langsung saja deh, saya jilatin vagina isteri saya. Saya gigit-gigit kecil clitorisnya sampai dia merem-melek. Nita pun nggak tinggal diam, ngeliat saya lagi sibuk, dia langsung saja meraih burung saya, terus dimasukin ke dalam mulutnya. Wah.. nggak nyangka, ternyata hisapannya benar-benar maut. Rasanya kita bertiga sudah nggak ingat apa-apa lagi, nggak peduli kalau-kalau nanti ada orang yang masuk.
Setelah beberapa lama, isteri saya ternyata sudah nggak tahan lagi.
"Ayo, Her.. Cepetan masukin.. saya sudah nggak kuat lagi nih.." pintanya memelas. Akhirnya berhubung saya juga sudah nggak tahan lagi, saya cabut saja burung saya dari dalam mulut si Nita, terus saya masukin ke dalam vagina isteri saya. Akh.. benar-benar nikmat, sambil terus saya dorong keluar-masuk. Nita nggak tinggal diam, sambil meremas-remas payudara isteri saya, dia terus ngejilatin buah Zakar saya. Wah.. rasanya benar-benar.. RUUAARR BBIIAASA! Nggak lama kemudian, mungkin karena sudah terlalu terangsang, isteri saya menjerit kecil.. Meneriakkan kepuasan.. Sehingga saya merasakan sesuatu yang sangat hangat di dalam lubang vaginanya. Melihat isteri saya sudah selesai, si Nita langsung bertanya dengan wajah harap-harap cemas.
"Ngg.. Sekarang saya boleh nggak ngerasain tusukan suami kamu, Lis?"
"Tentu aja boleh, Nit.." jawab isteri saya sambil mencium bibir si Nita. Mendapat lampu hijau, Nita langsung mengambil burung saya yang sudah lengket (tapi masih tegang benar) terus dibimbingnya ke dalam lubang vaginanya yang ditutupi semak belukar.
"Aaakkhh.." desis si Nita setelah saya dorong burung saya pelan-pelan.
"Ayo, Her.. Terus, Her.. I Love You.." kelihatannya si Nita benar-benar mendapatkan kenikmatan yang luar biasa. Sambil saya goyang-goyang, isteri saya menjilati teteknya si Nita. "Aduh, Lis.. Her.. I love you both.."
Pokoknya selama saya dan isteri saya bekerja, mulut si Nita mendesis-desis terus. Kemudian, mungkin karena isteri saya nggak mau ngedengerin desisan si Nita terus, akhirnya dia bangun dan mengarahkan vaginanya ke muka si Nita. Dengan sigap Nita menyambut vagina isteri saya dengan juluran lidahnya. Sampai kira-kira sepuluh menit kita bertiga dalam posisi seperti itu, akhirnya saya sudah benar-benar nggak tahan lagi.. dan.. ahh.. saya merasakan desakan si Nita mengencang, akhh.. Akhirnya jebol juga pertahanan saya. Dan disaat yang berbarengan kita bertiga merasakan suatu sensasi yang luar biasa.. Kita bertiga saling merangkul sekuat-kuatnya, sampai.. Aahh..
Begitulah, setelah itu kita bertiga terkulai lemas sambil tersenyum puas..
"Thank you Heru, .. Lisa.. Ini benar-benar pengalaman yang luar biasa buat saya.."
"Ha.. ha.. ha.. Sama, Nit.. saya juga benar-benar merasakan nikmat yang yang nggak pernah saya bayangin sebelumnya. Sayang suami kamu nggak ikut yah, Nit," kata isteri saya.
"Gimana kalau kapan-kapan kita ajak suami kamu sekalian, boleh nggak, Nit?"
"Benar Lis.. Ide yang bagus, tapi kita nggak boleh ngomong langsung, Lis.. Musti kita pancing dulu.." kata si Nita.
"Setuju," sahut isteri saya.
"Gimana Her.. Boleh nggak?"
Untuk sesaat saya nggak bisa menjawab. Bayangin, masa saya musti berbagi isteri saya sama suaminya si Nita? Rasanya perasaan cemburu saya nggak rela. Tapi, ngebayangin sensasi yang akan terjadi kalau kita main berempat sekaligus.. Wah..
"Boleh, nanti kamu atur yah, Nit.. Biar saya bisa ngerasain lagi hangatnya lubang vagina kamu.. Ha.. ha.." akhirnya saya menyetujui.
Makanya, sewaktu kenalan sama si Nita ini, saya sama sekali nggak ada pikiran yang macam-macam. Sampai lama-kelamaan isteri saya mulai akrab sama si Nita. Mereka sering pergi sama-sama. Nah, suatu hari, si Nita telpon isteri saya buat ngasih tahu bahwa dia sekeluarga lagi dapat voucher menginap satu malam di sebuah Hotel bintang lima di Jakarta. Dia suruh isteri saya datang buat mencoba fasilitas-fasilitas yang disediakan hotel tersebut. Nah, karena ada kesempetan buat berenang, fitness dan lain-lain gratis, maka saya berdua nggak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Siangnya saya berdua nyusul ke hotel tersebut. Sesampainya di sana, saya berdua langsung menuju ke kolam renang, karena si Nita sudah janjian nunggu disitu. benar aja, begitu ngeliat saya berdua datang, si Nita langsung manggil-manggil sambil melambaikan tangannya.
"Hai Lis, Her.. "
"Hai Nit.. Mana suami sama anak kamu?" tanya isteri saya.
"Biasa, dua-duanya lagi tidur siang tuh.." kata si Nita.
"Kamu berdua aja.. Mana anak kamu?"
"Nggak ikut deh, Nit.. Abisnya repot kalau ngajak anak kecil" kataku.
"Ya sudah, sekarang gimana, kamu berdua mau berenang nggak? Atau mau Fitness aja?"
"Langsung Fitness aja deh, Nit"
Begitulah, setelah itu kita bertiga langsung menuju ke tempat Fitnessnya. Dan setelah ganti baju di locker room, kita bertiga mulai berfitnes-ria. Asyik juga sih, sampai-sampai nggak terasa sudah hampir tiga jam kita fitness. Wah, badan rasanya sudah capek benar nih. Setelah selesai kita bertiga terus bilas di ruang ganti, dan langsung menuju ke ruang Whirlpool. Nah, sampai disini kita bertiga bingung, sebab ruang whirpoolnya ternyata cuma satu. Wah gimana nih? Tapi akhirnya kita coba-coba aja, dan ternyata benar, cewek sama cowok jadi satu ruangannya. Wah, malu juga nih.. Apalagi si Nita, soalnya kita bertiga cuma dililit sama kain handuk. Setelah masuk ke dalam, saya tertegun, karena di dalam saya lihat ada cewek yang dengan santainya lagi jalan mondar-mandir dalam keadaan.. Bugil. Wah.. Gawat nih. Setelah saya lirik, ternyata si Nita juga lagi ngeliatin tuh cewek yang kesannya cuek banget. Selagi kita bertiga bengong-bengong, tahu-tahu kita disamperin sama locker-girlnya.
"Mari Mbak, Mas.. Handuknya saya simpan," kata si Mbak locker itu dengan suara yang halus.
"Ha? Disimpan?" tanya saya sambil kebingungan.
"Hi-hi-hi.. Iya, Mas, memang begitu peraturannya.. Biar air kolamnya nggak kotor.. " sahut si Mbak dengan senyum genit.
"Wah.. Mati deh saya", batin saya dalem hati, masa saya musti berbugil ria di depan satu, dua, tiga.. Empat orang cewek sih? Sementara itu saya liat isteri saya sama si Nita juga lagi saling pandang kebingungan. Akhirnya saya yang memutuskan,
"Hm.. Gini deh, Mbak.. Kita liat-liat aja dulu.. Nanti kalau mau berendam baru kita taruh handuknya di sini"
"Iya deh, Mas.." kata si Mbak lagi sambil tersenyum genit. Terus dia langsung berbalik jalan keluar ruangan.
Setelah tinggal bertiga, isteri saya langsung memandang si Nita,
"Gimana nih, Nit?"
Selagi si Nita masih terdiam bingung, isteri saya langsung ngomong lagi,
"Ya sudah deh.. Kita terusin aja yuk," katanya sambil melepaskan handuknya.
"Sudah deh, Nit.. Buka aja.. nggak apa-apa kok," kata isteri saya lagi.
"Benar nih, Lis? Terus si Heru gimana?" tanya si Nita sambil melirik malu-malu ke arah saya.
Pada saat itu saya cuma bisa pasrah aja, dan berdoa moga-moga burung saya nggak sampai bangun. Sebab kalau bangun kan gawat, si Nita bisa tahu karena saya cuma dililit handuk doang.
"Nggak apa-apa.. Anggap saja kita kasih dia tontonan gratis" sahut isteri saya lagi.
Gawat juga nih, saya benar-benar nggak nyangka kalau isteri saya sebaik ini. Sebab biasanya dia cemburuan banget. Akhirnya pelan-pelan si Nita mau juga ngelepasin handuknya. Aduh mak.. Begitu dia lepas handuknya, saya langsung bisa ngeliat dua buah teteknya yang membulat.. dan.. jembutnya yang.. gile.. lebat banget! Langsung aja saya menelan ludah saya sendiri.. sambil menatap bengong ke tubuh si Nita. Ngelihat keadaan saya yang kayak orang linglung itu, isteri saya langsung tertawa geli. Sementara si Nita masih berusaha menutupi vaginanya dengan kedua tangannya.
"Kenapa Her.. Jangan bengong gitu dong, sekarang kamu yang musti buka handuk tuh," kata isteri saya lagi.
Busyet.. Masa saya disuruh bugil di depan si Nita sih? Tapi karena takut kalau-kalau nanti isteri saya berubah pikiran, langsung aja deh saya lepas handuk saya. Seiring dengan gerakan saya ngelepas handuk, saya lihat si Nita langsung membuang muka jengah.
"Lho, kenapa Nit.. nggak apa-apa kok.. Tadi si Heru juga ngeliatin body kamu, sampai terangsang tuh.. Lihat deh," kata isteri saya lagi sambil menatap burung saya. Akhirnya si Nita ngelirik juga ke burung saya, dan.. Wah.. dasar burung kurang ajar, begitu diliatin dua orang cewek, perlahan tapi pasti dia mulai bangkit. Pelan-pelan mengangguk-angguk, sampai akhirnya benar-benar tegang setegang-tegangnya. Wah, mokal banget deh, saya..
"Tuh-kan, Nit.. Benarkan dia sudah terangsang ngeliatin body kamuy.." kata isteri saya lagi. Ngeliat burung saya yang sudah tegang benar, akhirnya dua-duanya nggak tahan lagi. Pada tertawa terpingkal-pingkal. Ngedenger suara ketawa mereka, cewek yang sendirian tadi langsung nengok.. dan begitu ngeliat burung saya, dia juga langsung ikut ketawa.
"Wah, dik.. Dia sudah nggak tahan tuh.." katanya pada isteri saya, sambil ngelirikin burung saya terus. Akhirnya daripada terus jadi bahan tertawaan, langsung aja deh, saya nyebur ke kolam whirpool. Nggak lama kemudian isteri saya dan si Nita nyusul. Akhirnya kita berempat berendam deh di kolam. Tapi nggak lama kemudian si Cewek itu bangun..
"Mbak sudahan dulu yah, Dik.. Mmm.. Tapi jangan disia-siakan tuh.." katanya sambil menunjuk ke selangkangan saya lagi. Buset nih cewek, rupanya dari tadi dia merhatiin kalau burung saya masih tegang terus.
Langsung saja saya berusaha tutupin burung saya pakai kedua telapak tangan. Sambil tersenyum genit, akhirnya cewek itu keluar ruangan. Nah, begitu tinggal kita bertiga, isteri saya langsung pindah posisi. Sekarang jadi saya yang ada ditengah-tengah mereka berdua.
"Her.. Dari tadi kok tegang melulu sih?" tanya isteri saya sambil menggenggam burung saya. Saya cuma bisa menggeleng saja sambil melirik si Nita.
"Ih.. Keras amat, kayak batu," kata isteri saya lagi. Lalu, tanpa saya duga dia langsung ngomong ke si Nita.
"Sini deh, Nit.. Mau cobain megang burung suami saya nggak nih?"
Haa? Saya sama si Nita jadi terbengong-bengong.
"Bbb.. Boleh, Lis?" tanya si Nita.
"Boleh, rasain deh.. Keras banget tuh," kata isteri saya lagi. Pelan-pelan, si Nita mulai ngegerayangin paha saya, makin lama makin naik, sampai akhirnya kepegang juga deh, torpedo saya. Wuih, rasanya benar-benar nikmat.
"Iya lho, Lis.. Kok bisa keras begini ya. Pasti enak sekali kalau dimasukin yah, Lis," kata si Nita lagi sambil terus mengelus-ngelus burung saya. Wah, saya sudah nggak tahan, tanpa minta persetujuan isteri saya lagi, langsung aja deh, saya tarik si Nita, saya lumat bibirnya.. sambil tangan saya meremas-remas teteknya.
"Akh.." Nita menggelinjang. Langsung saya angkat si Nita dari dalam air, saya dudukin di pinggiran kolam.. Kakinya saya buka lebar-lebar, dan.. langsung deh saya benamin wajah saya ke dalam selangkangannya, sehingga si Nita semakin mengerang-ngerang. Sementara itu isteri saya tetap giat mengocok-ngocok burung saya. Akhirnya karena sudah nggak tahan lagi, kita bertiga naik ke pinggiran kolam.
"Gantian dong, Nit.. Biar si Heru ngejilatin vagina saya, saya juga kepengen nih.." kata isteri saya dengan bernafsu. Karena dia sudah memelas begitu, langsung saja deh, saya jilatin vagina isteri saya. Saya gigit-gigit kecil clitorisnya sampai dia merem-melek. Nita pun nggak tinggal diam, ngeliat saya lagi sibuk, dia langsung saja meraih burung saya, terus dimasukin ke dalam mulutnya. Wah.. nggak nyangka, ternyata hisapannya benar-benar maut. Rasanya kita bertiga sudah nggak ingat apa-apa lagi, nggak peduli kalau-kalau nanti ada orang yang masuk.
Setelah beberapa lama, isteri saya ternyata sudah nggak tahan lagi.
"Ayo, Her.. Cepetan masukin.. saya sudah nggak kuat lagi nih.." pintanya memelas. Akhirnya berhubung saya juga sudah nggak tahan lagi, saya cabut saja burung saya dari dalam mulut si Nita, terus saya masukin ke dalam vagina isteri saya. Akh.. benar-benar nikmat, sambil terus saya dorong keluar-masuk. Nita nggak tinggal diam, sambil meremas-remas payudara isteri saya, dia terus ngejilatin buah Zakar saya. Wah.. rasanya benar-benar.. RUUAARR BBIIAASA! Nggak lama kemudian, mungkin karena sudah terlalu terangsang, isteri saya menjerit kecil.. Meneriakkan kepuasan.. Sehingga saya merasakan sesuatu yang sangat hangat di dalam lubang vaginanya. Melihat isteri saya sudah selesai, si Nita langsung bertanya dengan wajah harap-harap cemas.
"Ngg.. Sekarang saya boleh nggak ngerasain tusukan suami kamu, Lis?"
"Tentu aja boleh, Nit.." jawab isteri saya sambil mencium bibir si Nita. Mendapat lampu hijau, Nita langsung mengambil burung saya yang sudah lengket (tapi masih tegang benar) terus dibimbingnya ke dalam lubang vaginanya yang ditutupi semak belukar.
"Aaakkhh.." desis si Nita setelah saya dorong burung saya pelan-pelan.
"Ayo, Her.. Terus, Her.. I Love You.." kelihatannya si Nita benar-benar mendapatkan kenikmatan yang luar biasa. Sambil saya goyang-goyang, isteri saya menjilati teteknya si Nita. "Aduh, Lis.. Her.. I love you both.."
Pokoknya selama saya dan isteri saya bekerja, mulut si Nita mendesis-desis terus. Kemudian, mungkin karena isteri saya nggak mau ngedengerin desisan si Nita terus, akhirnya dia bangun dan mengarahkan vaginanya ke muka si Nita. Dengan sigap Nita menyambut vagina isteri saya dengan juluran lidahnya. Sampai kira-kira sepuluh menit kita bertiga dalam posisi seperti itu, akhirnya saya sudah benar-benar nggak tahan lagi.. dan.. ahh.. saya merasakan desakan si Nita mengencang, akhh.. Akhirnya jebol juga pertahanan saya. Dan disaat yang berbarengan kita bertiga merasakan suatu sensasi yang luar biasa.. Kita bertiga saling merangkul sekuat-kuatnya, sampai.. Aahh..
Begitulah, setelah itu kita bertiga terkulai lemas sambil tersenyum puas..
"Thank you Heru, .. Lisa.. Ini benar-benar pengalaman yang luar biasa buat saya.."
"Ha.. ha.. ha.. Sama, Nit.. saya juga benar-benar merasakan nikmat yang yang nggak pernah saya bayangin sebelumnya. Sayang suami kamu nggak ikut yah, Nit," kata isteri saya.
"Gimana kalau kapan-kapan kita ajak suami kamu sekalian, boleh nggak, Nit?"
"Benar Lis.. Ide yang bagus, tapi kita nggak boleh ngomong langsung, Lis.. Musti kita pancing dulu.." kata si Nita.
"Setuju," sahut isteri saya.
"Gimana Her.. Boleh nggak?"
Untuk sesaat saya nggak bisa menjawab. Bayangin, masa saya musti berbagi isteri saya sama suaminya si Nita? Rasanya perasaan cemburu saya nggak rela. Tapi, ngebayangin sensasi yang akan terjadi kalau kita main berempat sekaligus.. Wah..
"Boleh, nanti kamu atur yah, Nit.. Biar saya bisa ngerasain lagi hangatnya lubang vagina kamu.. Ha.. ha.." akhirnya saya menyetujui.
Cerita Dewasa Tante Lagi Terangsang
Sebelumnya aku akan memberikan gambaran sekilas tentang tanteku ini. Tingginya sekitar 167-an, lingkar dadanya sekitar 34-an, pinggulnya 32-an, aku menambahkan "an" karena aku kurang tahu pasti besar masing-masing bagian tubuhnya itu.
Kejadian itu terjadi di Denpasar Bali, tahun 1998, aku waktu itu kelas 3 SMU di salah satu SMU di Denpasar. Tapi sekarang aku kuliah di Jakarta di salah satu kampus yang tidak begitu terkenal di Jakarta. Aku memang sudah lama sekali sangat menginginkan tubuh tanteku itu, tapi butuh penantian yang lama, kira-kira sejak aku SMP. Mulailah kuceritakan isinya. Waktu itu sekitar jam 12.30 WITA, matahari benar-benar panasnya minta ampun, terus motorku endut-endutan. Wahh! benar-benar reseh dah. Tapi akhirnya aku sampai di kost-kostan, langsung saja aku ganti baju, terus sambil minum air Aqua, wuahh, segar tenan rek. Lalu tiba-tiba belum kurebahkan badan untuk istirahat handphone-ku bunyi, ternyata dari tanteku, lalu kujawab,
"Halo Tan, ada apa?"
"Kamu cepet dateng ya!" ucap tanteku.
"Sekarang?" tanyaku lagi.
"La iya-ya, masa besok, cepet yah!" ujar tanteku.
Lalu aku bergegas datang ke rumah tanteku itu.
Sesampainya di sana, kulihat rumahnya kok sepi, tidak seperti biasanya (biasanya ramai sekali), lalu kugedor pintu rumah tanteku. Tiba-tiba tanteku langsung teriak dari dalam. "Masuk aja Wa!" teriak tanteku. Oh ya, namaku Dewa. Lalu aku masuk langsung ke ruang TV. Terus aku tanya,
"Tante dimana sih?" tanyaku dengan nada agak keras.
"Lagi di kamar mandi, bentar ya Wa!" sahut tanteku.
Sambil menunggu tanteku mandi aku langsung menghidupkan VCD yang ada di bawah TV, dan menonton film yang ada di situ. Tidak lama kemudian tanteku selesai mandi lalu menghampiri aku di ruang TV. Oh my god! Tanteku memakai daster tipis tapi tidak transparan sih, tapi cetakan tubuhnya itu loh, wuiihh! Tapi perlu pembaca ketahui di keluargaku terutama tante-tanteku kalau lagi di rumah pakaiannya seksi-seksi.
Aku lanjutkan, lalu dia menegurku.
"Sorry ya Wa, Tante lama."
"Oh, nggak papa Tante!" ujarku rada menahan birahi yang mulai naik.
"Oom kemana Tante?" tanyaku.
"Loh Oom kamu kan lagi ke Singaraja (salah satu kota di Bali)," jawab tanteku.
"Memangnya kamu nggak di kasih tau kalo di Singaraja ada orang nikah?" tanya tanteku lagi.
"Wah nggak tau Tante, Dewa sibuk sih," jawabku.
"Eh Wa, kamu nggak usah tidur di kos-an yah, temenin Tante di sini, soalnya Tante takut kalo sendiri, ya Wa?" tanya tanteku sedikit merayu.
Wow, mimpi apa aku semalam kok tanteku mengajak tidur di rumahnya, tidak biasanya, pikirku.
"Tante kok nggak ikut?" tanyaku memancing.
"Males Wa," jawab tanteku enteng.
"Ooo, ya udah, terus Dewa tidur dimana Tan?" tanyaku lagi.
"Mmm.. di kamar Tante aja, biar kita bisa ngobrol sambil nonton film, di kamar Tante ada film baru tuh!" ujar tanteku.
Oh god! what a miracle it this. Gila aku tidak menyangka aku bisa tidur sekamar, satu tempat tidur lagi, pikirku.
"Oke deh!" sahutku dengan girang.
Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore.
"Waa..! Dewaa..! udah mandi belum?" teriak tanteku memanggil.
"Bentar Tan!" jawabku.
Memang saat itu aku sedang membersihkan motor, melap motor adalah kebiasaanku, karena aku berprinsip kalau motor bersih terawat harga jualnya pasti tinggi. Pada saat itu pikiran kotorku dalam sekejap hilang. Setelah melap motor, aku bergegas mandi. Di kamar mandi tiba-tiba pikiran kotorku muncul lagi, aku berpikir dan mengkhayalkan kemaluan tanteku, "Gimana rasanya ya?" khayalku. Terus aku berusaha menghilangkan lagi pikiran itu, tapi kok tidak bisa-bisa. Akhirnya aku mengambil keputusan dari pada nafsuku kupendam terus entar aku macam-macam, wah pokoknya bisa gawat. Akhirnya aku onani di kamar mandi. Pas waktu di puncak-puncaknya aku onani, tiba-tiba pintu kamar mandi ada yang mengetuk. Kontan saja aku kaget, ternyata yang masuk itu adalah tanteku. Mana pas bugil, sedang tegang lagi kemaluanku, wah gawat!
"Sibuk ya Wa?" tanya tanteku sambil senyum manja.
"Eh.. mm.. so.. so.. sorry Tan, lupa ngunci," jawabku gugup.
Tapi sebenarnya aku bangga, bisa menunjukkan batang kemaluanku pada tanteku. Panjang batang kemaluanku pas keadaan puncak bisa mencapai 15 cm, pokoknya "international size" deh.
"Oh nggak papa, cepetan deh mandinya, terus langsung ke kamar ya, ada yang pengen Tante omongin."
"Oh my god, marah deh Tante, wah gawat nih," pikirku.
Lalu aku cepat-cepat mandi, terus berpakaian di dalam kamar mandi juga, tidak sempat deh melanjutkan onani, padahal sudah di puncak.
Setibanya di kamar tanteku, aku melihat tante memakai celana pendek, sangat pendek, ketat, pokoknya seksi sekali, terus aku bertanya,
"Ada apa Tan, kayaknya gawat banget sih?" tanyaku takut-takut sambil duduk di atas tempat tidur.
"Enggak, Tante pengen cerita, tentang Oom-mu itu lho," ujar tanteku.
"Emangnya Oom kenapa Tan?" tanyaku lagi.
Dalam hatiku sebenarnya aku sudah tahu oom itu orangnya agak lemah, jadi aku berharap tante menawarkan kemaluannya padaku. Dengan seksama aku medengarkan cerita tanteku itu.
"Sebenernya Tante nggak begitu bahagia sama Oom-mu itu, tapi dibilang nggak bahagia nggak juga, sebabnya Oom-mu itu orangnya setia, tanggung jawab, dan pengertian, yang bikin Tante ngomong bahwa Tante nggak bahagia itu adalah masalah urusan ranjang," ujar tanteku panjang lebar.
"Maksud Tante?" tanyaku lagi.
"Ya ampun, masih nggak ngerti juga, maksud Tante, Oom-mu itu kalo diajak begituan suka cepet nge-down, nah ngertikan?" tanya tanteku meyakinkan aku.
"Ooo.." ucapku pura-pura tidak mengerti.
"Mmm.. Wa, mau nggak nolongin Tante?" tanya tanteku dengan nada memelas.
"Bantu apa Tan?" tanyaku lagi.
"Kan hari ini sepi, terus Oom-mu kan nggak ada, juga sekarang Tante lagi terangsang nih, mau nggak kamu main sama Tante?" tanya tanteku sembari mendekatkan tubuhnya kepadaku.
Gila! Ternyata benar juga yang aku khayalkan, Tanteku minta! Cihui! ups tapi jangan sampai aku terlihat nafsu juga, pikirku dalam-dalam.
"Tapi Dewa takut Tante, nanti ada yang ngeliat gimana?" ucapku polos.
"Loh..! kan kamu ngeliat sendiri, emang di sini ada siapa? kan nggak ada siapa-siapa," jawab tanteku meyakinkan.
"Ya udah deh," ujar tanteku sambil memulai dengan menempelkan tangannya ke kemaluanku yang sebenarnya sudah menegang dari tadi.
"Wow.. gede juga ya! Buka dong celanamu Wa!" ujar tanteku mesra.
Lalu kubuka celanaku dengan cepat-cepat, dengan cepat pula tanteku memegang kemaluanku yang sudah over size itu. Sambil mengocok batang kemaluanku dengan tangan kirinya, tangan kanan tanteku memegang payudaranya dan mengeluarkan bunyi-bunyi yang merangsang. "Emf.. ehm.. mm.. gede banget kemaluanmu Wa!" ujar tanteku.
Aku tidak terlalu mendengarkan omongan tanteku, soalnya aku sudah "over" sekali. Lalu tanteku mulai menempelkan kemaluanku ke mulutnya, dan dengan seketika sudah dilumatnya batang kemaluanku itu.
"Oh God! Eh.. eh.. ehm.. e.. nak.. Tante.. terus Tan..!" ujarku merasakan nikmatnya kuluman tanteku itu. Tanteku lalu merebahkan tubuhku di atas ranjangnya, lalu dengan ganas ia menyedot batang kemaluanku itu, lalu ia memutar tubuhnya dan meletakkan liang kemaluannya di atas mukaku tanpa melepaskan kemaluanku dari mulutnya. Dengan sigap aku langsung menjilat liang kemaluan tanteku. Merasakan itu tanteku mengerang keenakan. "Aaah.. Wa.. enak.. terus Wa.. terus jilat..!" erang tanteku keras-keras. Mendengar itu, nafsuku makin bertambah, dengan nafsu yang menggebu jilatan ke kemaluannya kutingkatkan lagi, dan akibatnya tanteku mengalami orgasme yang dahsyat, sampai-sampai mukaku kena semprotan cairan kewanitaannya. "Oh Dewa.. Tante sayang kamu.. uh.. ka.. ka.. mu ponakan Tante paling.. hee.. bat.. aah," puji tanteku sambil mengerang merasakan nikmat.
Aku merasa bangga karena aku masih bertahan, lalu aku membalikkan tubuh tanteku sehingga ia terlentang. Kuangkat kedua kakinya sehingga terpampanglah liang kemaluannya berwarna pink merekah. Sebelum aku mulai menu utamanya, pertama aku melucuti pakaiannya terlebih dahulu, setelah terbuka, aku mulai memainkan mulutku di puting payudaranya, dan kemaluanku yang telah "over" tadi kuletakkan di atas perutnya sambil menggesek-gesekkannya. Perlahan aku menciumi tubuh tanteku dengan arah menurun, mulai dari puting terus ke perut lalu ke paha sampai akhirnya tiba di bibir kemaluannya. Dengan penuh nafsu aku menjilat, menyedot, sampai menggigit saking gemasnya, dan rupanya tanteku akan mengalami orgasmenya lagi. "Ooohh.. Waa.. Tante mau kee.. luu.. aar! Aaah..!" erang tanteku lagi sambil menjambak rambut kepalaku sehingga wajahku terbenam di kemaluannya. "Wa, udah ah, Tante nggak kuat lagi, Oom-mu mana bisa kayak gini, udah deh Wa, lansung aja tante pengen langsung ngerasain itu-mu."
Tubuhnya kutopang dengan tangan kiri, sementara tangan kiri membimbing batang kemaluanku mencari sarangnya. Melihatku kesulitan mencari liang kemaluan tanteku, akhirnya tanteku yang membimbing untuk memasukkan batang kemaluaku ke liang kemaluannya. Setelah menempel di lubangnya, perlahan kudorong masuk batang kemaluanku, dorongan itu diiringi dengan desahan tanteku. "Egghmm.. terus Waa.. pelan tapi terus Wa.. egghhmm..!" desahan tanteku begitu merangsang. Aku sebenarnya tidak senang dengan permainan yang perlahan. Akhirnya dengan tiba-tiba dorongan batang kemaluanku, kukeraskan sehingga tanteku teriak kesakitan. "Aaahh.. Waa.. saakitt.. pelan-pelan.. aargghh.." teriak tanteku menahan sakitnya itu. Dan tidak percuma, batang kemaluanku langsung terbenam di dalam liang kehormatannya itu. Setelah itu batang kemaluanku, aku maju-mundurkan perlahan, untuk mencari kenikmatan.
Dengan gerakan perlahan itu akhirnya tanteku menikmati kembali permainan itu. "Ah.. uh.. terus Wa.. enak sekali.. itu-mu gede sekali.. egghh.. lebih enak dari Oom-mu itu.. terus Waa.." erang tanteku keenakan. Lalu lama-lama aku mulai mempercepat gerakan maju-mundur, dan itu mendapat reaksi yang dahsyat dari tanteku, ia juga mulai memainkan pinggulnya, hingga terasa batang kemaluanku mulai berdenyut,
"Tan.. saya mauu.. kelu.. arr.. nih..!"
"Di dalam aja Waa.. Tante.. juugaa.. mauu keeluaarr.. aarrgghh..!"
Akhirnya kami keluar bersama-sama, kira-kira enam kali semprotan aku mengeluarkan sperma. Aaahh.. begitu nikmatnya.
Setelah itu kucabut batang kemaluanku dari liang kemaluan tanteku, terus kuberikan ke mulut tanteku untuk dibersihkan. Dengan ganas tanteku menjilati spermaku yang masih ada di kepala kemaluanku hingga bersih. Setelah itu tanteku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan aku tetap berada di kamar, tiduran melepas lelah. Setelah tanteku selesai membersihkan diri, ia kembali ke kamar dan segera mencium bibirku, lalu ia bilang bahwa selama oom-ku di Singaraja, aku diharuskan tinggal di rumah tanteku dan aku jelas mengiyakan. Lalu tante juga bertanya apakah keadaan kostku bebas, maka kujawab iya. Lalu tante bilang bahwa kalau misalnya oom-ku ada di rumah, terus tanteku ingin main denganku, tanteku akan mencariku ke kost, aku hanya manggut-manggut senang saja. Demikianlah pengalamanku dengan tante sendiri.
Kejadian itu terjadi di Denpasar Bali, tahun 1998, aku waktu itu kelas 3 SMU di salah satu SMU di Denpasar. Tapi sekarang aku kuliah di Jakarta di salah satu kampus yang tidak begitu terkenal di Jakarta. Aku memang sudah lama sekali sangat menginginkan tubuh tanteku itu, tapi butuh penantian yang lama, kira-kira sejak aku SMP. Mulailah kuceritakan isinya. Waktu itu sekitar jam 12.30 WITA, matahari benar-benar panasnya minta ampun, terus motorku endut-endutan. Wahh! benar-benar reseh dah. Tapi akhirnya aku sampai di kost-kostan, langsung saja aku ganti baju, terus sambil minum air Aqua, wuahh, segar tenan rek. Lalu tiba-tiba belum kurebahkan badan untuk istirahat handphone-ku bunyi, ternyata dari tanteku, lalu kujawab,
"Halo Tan, ada apa?"
"Kamu cepet dateng ya!" ucap tanteku.
"Sekarang?" tanyaku lagi.
"La iya-ya, masa besok, cepet yah!" ujar tanteku.
Lalu aku bergegas datang ke rumah tanteku itu.
Sesampainya di sana, kulihat rumahnya kok sepi, tidak seperti biasanya (biasanya ramai sekali), lalu kugedor pintu rumah tanteku. Tiba-tiba tanteku langsung teriak dari dalam. "Masuk aja Wa!" teriak tanteku. Oh ya, namaku Dewa. Lalu aku masuk langsung ke ruang TV. Terus aku tanya,
"Tante dimana sih?" tanyaku dengan nada agak keras.
"Lagi di kamar mandi, bentar ya Wa!" sahut tanteku.
Sambil menunggu tanteku mandi aku langsung menghidupkan VCD yang ada di bawah TV, dan menonton film yang ada di situ. Tidak lama kemudian tanteku selesai mandi lalu menghampiri aku di ruang TV. Oh my god! Tanteku memakai daster tipis tapi tidak transparan sih, tapi cetakan tubuhnya itu loh, wuiihh! Tapi perlu pembaca ketahui di keluargaku terutama tante-tanteku kalau lagi di rumah pakaiannya seksi-seksi.
Aku lanjutkan, lalu dia menegurku.
"Sorry ya Wa, Tante lama."
"Oh, nggak papa Tante!" ujarku rada menahan birahi yang mulai naik.
"Oom kemana Tante?" tanyaku.
"Loh Oom kamu kan lagi ke Singaraja (salah satu kota di Bali)," jawab tanteku.
"Memangnya kamu nggak di kasih tau kalo di Singaraja ada orang nikah?" tanya tanteku lagi.
"Wah nggak tau Tante, Dewa sibuk sih," jawabku.
"Eh Wa, kamu nggak usah tidur di kos-an yah, temenin Tante di sini, soalnya Tante takut kalo sendiri, ya Wa?" tanya tanteku sedikit merayu.
Wow, mimpi apa aku semalam kok tanteku mengajak tidur di rumahnya, tidak biasanya, pikirku.
"Tante kok nggak ikut?" tanyaku memancing.
"Males Wa," jawab tanteku enteng.
"Ooo, ya udah, terus Dewa tidur dimana Tan?" tanyaku lagi.
"Mmm.. di kamar Tante aja, biar kita bisa ngobrol sambil nonton film, di kamar Tante ada film baru tuh!" ujar tanteku.
Oh god! what a miracle it this. Gila aku tidak menyangka aku bisa tidur sekamar, satu tempat tidur lagi, pikirku.
"Oke deh!" sahutku dengan girang.
Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore.
"Waa..! Dewaa..! udah mandi belum?" teriak tanteku memanggil.
"Bentar Tan!" jawabku.
Memang saat itu aku sedang membersihkan motor, melap motor adalah kebiasaanku, karena aku berprinsip kalau motor bersih terawat harga jualnya pasti tinggi. Pada saat itu pikiran kotorku dalam sekejap hilang. Setelah melap motor, aku bergegas mandi. Di kamar mandi tiba-tiba pikiran kotorku muncul lagi, aku berpikir dan mengkhayalkan kemaluan tanteku, "Gimana rasanya ya?" khayalku. Terus aku berusaha menghilangkan lagi pikiran itu, tapi kok tidak bisa-bisa. Akhirnya aku mengambil keputusan dari pada nafsuku kupendam terus entar aku macam-macam, wah pokoknya bisa gawat. Akhirnya aku onani di kamar mandi. Pas waktu di puncak-puncaknya aku onani, tiba-tiba pintu kamar mandi ada yang mengetuk. Kontan saja aku kaget, ternyata yang masuk itu adalah tanteku. Mana pas bugil, sedang tegang lagi kemaluanku, wah gawat!
"Sibuk ya Wa?" tanya tanteku sambil senyum manja.
"Eh.. mm.. so.. so.. sorry Tan, lupa ngunci," jawabku gugup.
Tapi sebenarnya aku bangga, bisa menunjukkan batang kemaluanku pada tanteku. Panjang batang kemaluanku pas keadaan puncak bisa mencapai 15 cm, pokoknya "international size" deh.
"Oh nggak papa, cepetan deh mandinya, terus langsung ke kamar ya, ada yang pengen Tante omongin."
"Oh my god, marah deh Tante, wah gawat nih," pikirku.
Lalu aku cepat-cepat mandi, terus berpakaian di dalam kamar mandi juga, tidak sempat deh melanjutkan onani, padahal sudah di puncak.
Setibanya di kamar tanteku, aku melihat tante memakai celana pendek, sangat pendek, ketat, pokoknya seksi sekali, terus aku bertanya,
"Ada apa Tan, kayaknya gawat banget sih?" tanyaku takut-takut sambil duduk di atas tempat tidur.
"Enggak, Tante pengen cerita, tentang Oom-mu itu lho," ujar tanteku.
"Emangnya Oom kenapa Tan?" tanyaku lagi.
Dalam hatiku sebenarnya aku sudah tahu oom itu orangnya agak lemah, jadi aku berharap tante menawarkan kemaluannya padaku. Dengan seksama aku medengarkan cerita tanteku itu.
"Sebenernya Tante nggak begitu bahagia sama Oom-mu itu, tapi dibilang nggak bahagia nggak juga, sebabnya Oom-mu itu orangnya setia, tanggung jawab, dan pengertian, yang bikin Tante ngomong bahwa Tante nggak bahagia itu adalah masalah urusan ranjang," ujar tanteku panjang lebar.
"Maksud Tante?" tanyaku lagi.
"Ya ampun, masih nggak ngerti juga, maksud Tante, Oom-mu itu kalo diajak begituan suka cepet nge-down, nah ngertikan?" tanya tanteku meyakinkan aku.
"Ooo.." ucapku pura-pura tidak mengerti.
"Mmm.. Wa, mau nggak nolongin Tante?" tanya tanteku dengan nada memelas.
"Bantu apa Tan?" tanyaku lagi.
"Kan hari ini sepi, terus Oom-mu kan nggak ada, juga sekarang Tante lagi terangsang nih, mau nggak kamu main sama Tante?" tanya tanteku sembari mendekatkan tubuhnya kepadaku.
Gila! Ternyata benar juga yang aku khayalkan, Tanteku minta! Cihui! ups tapi jangan sampai aku terlihat nafsu juga, pikirku dalam-dalam.
"Tapi Dewa takut Tante, nanti ada yang ngeliat gimana?" ucapku polos.
"Loh..! kan kamu ngeliat sendiri, emang di sini ada siapa? kan nggak ada siapa-siapa," jawab tanteku meyakinkan.
"Ya udah deh," ujar tanteku sambil memulai dengan menempelkan tangannya ke kemaluanku yang sebenarnya sudah menegang dari tadi.
"Wow.. gede juga ya! Buka dong celanamu Wa!" ujar tanteku mesra.
Lalu kubuka celanaku dengan cepat-cepat, dengan cepat pula tanteku memegang kemaluanku yang sudah over size itu. Sambil mengocok batang kemaluanku dengan tangan kirinya, tangan kanan tanteku memegang payudaranya dan mengeluarkan bunyi-bunyi yang merangsang. "Emf.. ehm.. mm.. gede banget kemaluanmu Wa!" ujar tanteku.
Aku tidak terlalu mendengarkan omongan tanteku, soalnya aku sudah "over" sekali. Lalu tanteku mulai menempelkan kemaluanku ke mulutnya, dan dengan seketika sudah dilumatnya batang kemaluanku itu.
"Oh God! Eh.. eh.. ehm.. e.. nak.. Tante.. terus Tan..!" ujarku merasakan nikmatnya kuluman tanteku itu. Tanteku lalu merebahkan tubuhku di atas ranjangnya, lalu dengan ganas ia menyedot batang kemaluanku itu, lalu ia memutar tubuhnya dan meletakkan liang kemaluannya di atas mukaku tanpa melepaskan kemaluanku dari mulutnya. Dengan sigap aku langsung menjilat liang kemaluan tanteku. Merasakan itu tanteku mengerang keenakan. "Aaah.. Wa.. enak.. terus Wa.. terus jilat..!" erang tanteku keras-keras. Mendengar itu, nafsuku makin bertambah, dengan nafsu yang menggebu jilatan ke kemaluannya kutingkatkan lagi, dan akibatnya tanteku mengalami orgasme yang dahsyat, sampai-sampai mukaku kena semprotan cairan kewanitaannya. "Oh Dewa.. Tante sayang kamu.. uh.. ka.. ka.. mu ponakan Tante paling.. hee.. bat.. aah," puji tanteku sambil mengerang merasakan nikmat.
Aku merasa bangga karena aku masih bertahan, lalu aku membalikkan tubuh tanteku sehingga ia terlentang. Kuangkat kedua kakinya sehingga terpampanglah liang kemaluannya berwarna pink merekah. Sebelum aku mulai menu utamanya, pertama aku melucuti pakaiannya terlebih dahulu, setelah terbuka, aku mulai memainkan mulutku di puting payudaranya, dan kemaluanku yang telah "over" tadi kuletakkan di atas perutnya sambil menggesek-gesekkannya. Perlahan aku menciumi tubuh tanteku dengan arah menurun, mulai dari puting terus ke perut lalu ke paha sampai akhirnya tiba di bibir kemaluannya. Dengan penuh nafsu aku menjilat, menyedot, sampai menggigit saking gemasnya, dan rupanya tanteku akan mengalami orgasmenya lagi. "Ooohh.. Waa.. Tante mau kee.. luu.. aar! Aaah..!" erang tanteku lagi sambil menjambak rambut kepalaku sehingga wajahku terbenam di kemaluannya. "Wa, udah ah, Tante nggak kuat lagi, Oom-mu mana bisa kayak gini, udah deh Wa, lansung aja tante pengen langsung ngerasain itu-mu."
Tubuhnya kutopang dengan tangan kiri, sementara tangan kiri membimbing batang kemaluanku mencari sarangnya. Melihatku kesulitan mencari liang kemaluan tanteku, akhirnya tanteku yang membimbing untuk memasukkan batang kemaluaku ke liang kemaluannya. Setelah menempel di lubangnya, perlahan kudorong masuk batang kemaluanku, dorongan itu diiringi dengan desahan tanteku. "Egghmm.. terus Waa.. pelan tapi terus Wa.. egghhmm..!" desahan tanteku begitu merangsang. Aku sebenarnya tidak senang dengan permainan yang perlahan. Akhirnya dengan tiba-tiba dorongan batang kemaluanku, kukeraskan sehingga tanteku teriak kesakitan. "Aaahh.. Waa.. saakitt.. pelan-pelan.. aargghh.." teriak tanteku menahan sakitnya itu. Dan tidak percuma, batang kemaluanku langsung terbenam di dalam liang kehormatannya itu. Setelah itu batang kemaluanku, aku maju-mundurkan perlahan, untuk mencari kenikmatan.
Dengan gerakan perlahan itu akhirnya tanteku menikmati kembali permainan itu. "Ah.. uh.. terus Wa.. enak sekali.. itu-mu gede sekali.. egghh.. lebih enak dari Oom-mu itu.. terus Waa.." erang tanteku keenakan. Lalu lama-lama aku mulai mempercepat gerakan maju-mundur, dan itu mendapat reaksi yang dahsyat dari tanteku, ia juga mulai memainkan pinggulnya, hingga terasa batang kemaluanku mulai berdenyut,
"Tan.. saya mauu.. kelu.. arr.. nih..!"
"Di dalam aja Waa.. Tante.. juugaa.. mauu keeluaarr.. aarrgghh..!"
Akhirnya kami keluar bersama-sama, kira-kira enam kali semprotan aku mengeluarkan sperma. Aaahh.. begitu nikmatnya.
Setelah itu kucabut batang kemaluanku dari liang kemaluan tanteku, terus kuberikan ke mulut tanteku untuk dibersihkan. Dengan ganas tanteku menjilati spermaku yang masih ada di kepala kemaluanku hingga bersih. Setelah itu tanteku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan aku tetap berada di kamar, tiduran melepas lelah. Setelah tanteku selesai membersihkan diri, ia kembali ke kamar dan segera mencium bibirku, lalu ia bilang bahwa selama oom-ku di Singaraja, aku diharuskan tinggal di rumah tanteku dan aku jelas mengiyakan. Lalu tante juga bertanya apakah keadaan kostku bebas, maka kujawab iya. Lalu tante bilang bahwa kalau misalnya oom-ku ada di rumah, terus tanteku ingin main denganku, tanteku akan mencariku ke kost, aku hanya manggut-manggut senang saja. Demikianlah pengalamanku dengan tante sendiri.
Cerita Dewasa Pria HyperSex
Kisah ini terjadi pada awal akhir tahun 2003 tepatnya bulan bulan desember. Aku seorang pria berwajah biasa dengan tinggi 171 dan berat 50 kg, termasuk kurus bodyku dan kulitku sawo matang khas jawa dan umurku 25 tahun. Aku sebenernya baru tinggal di Surabaya karena aku orangnya kerasan banget di kamar jadi di Surabaya aku agak kurang pergaulan alias kuper terhadap cewek-cewek di Surabaya.
Suatu hari ketika aku chatting di kamar, tiba-tiba menyapa seorang cewek (umur 41 tahun) dan selanjutkan kami kenalan ternyata namanya Linda, kami chatting sampai 3 jam lamanya dan aku sangat suka dengan type cewek ini karena dia sangat terbuka masalah sex.
Setelah selesai chatting dan kami bertukar nomer handphone, tiba-tiba malamnya HPku berbunyi, ternyata Linda yang SMS aku. Dia bilang boleh telpon aku atau tidak, jadi kujawab aja boleh. Kemudain tak lama kemudian dia telepon. Setelah ngobrol-ngobrol banyak dia mengaku bahwa dia berasal dari bandung dan dia ternyata masih single karena trauma dengan pacarnya dulu. Karena sifat dia yang terbuka maka kami cepat akrab dan ngobrol banyak hal tertama tentang sex.
Kubilang kalau aku orangnya agak hypersex dia malah jadi penasaran dan ingin mencoba karena cowoknya dulu hanya tahan sebentar karena hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak mementingkan kepuasan pasangannya. Dan aku bilang padanya kalau aku belum bisa orgasme kalau pasanganku belum keluar minimal 3 kali (3 kali orgasme).
"Wah hebat donk kalau gitu" kata Linda di telpon.
"Ah biasa aja" jawabku santai karena ku anggap itu hal yang lumrah.
"Seandainya aku punya cowok kayak kamu betapa bahagianya aku" kata Linda lagi.
"Aku mau kok jadi cowok kamu" kataku nekad.
"Kamu kan baru umur 25 tahun sedangkan aku sudah 41 tahun, kamu mana mau ama cewek setua aku, kan kamu bias cari cewek yang sebaya sama kamu" kata Linda.
"Kurang enak she kalau ama cewek yang sebaya atau lebih muda dari aku, soalnya aku paling suka cewek yang jauh lebih tua dibanding aku, biasanya cewek yang jauh lebih tua dari aku yang bias ngimbangi nafsu sex ku yang kuat ini" jawabku.
"Jadi kamu mau jadi pacarku" kata Linda setengah tidak percaya.
"Swear. Aku senang banget jika kamu mau jadi pacarku" jawabku yakin.
"Tapi jarak kita kan jauh, kamu di surabaya sedangkan aku di bandung. Jadi kita jarang ketemu donk" kata Linda.
"Masalah jarak kan enggak masalah kan kita bisa gantian datang ke kota masing-masing. Siapa yang bisa lah" kataku.
"Wah.. kalau gitu kamu kesini donk"kata Linda penuh harap.
"Kalau sekarang enggak bisa deh.. Soalnya aku lagi bokek berat neh.. kalau kamu mau datang aja ke Surabaya sekaligus lihat-lihat kota Surabaya" kataku setangah membujuk.
Setelah dibujuk-bujuk dan omong-omong ternyata dia mau ke Surabaya besok pagi dan minta di jemput di airport. Setelah janjian kemudain dia tutup telponnya karena sudah tengah malam dan dia harus bangun pagi besok.
Paginya kira-kira pukul 08:00 aku sudah menunggu Linda di airport. Setelah diumumkan bahwa pesawat merpati dari bandung telah tiba, maka aku siap-siap di lokasi kedatangan. Tiba-tiba HP ku berbunyi, ternyata Linda yang telepon.
"Kamu yang mana don" tanya Linda.
"Aku yang pake baju item dan pake kacamata" jawabku.
"Aku pake baju biru muda, aku sudah lihat kamu, nampak nggak aku melambai" kata Linda.
Kulihat seorang wanita berbaju biru muda melambaikan tangan kepadaku, dan aku menghampirinya. Aku kaget banget, ternyata dia cewek Chinese dan dari wajahnya kayak baru umur 35 tahunan, bodynya ramping, kulitnya putih halus, rambutnya sebahu dan kuperhatiin dadanya, ternyata dia punya payudara kecil, menurut perkiraanku ukuran payudaranya 34A. Tapi dia seorang wanita yang sangat menarik dan orang tak akan menyagka kalau dia sudah berumur 41 tahun. Pasti orang mengira dia berumur 35-an tahun.
Setelah naik taxi dan ngobrol juga saling memperhatikan kami serasa sudah kenal berbulan-bulan mungkin karena dia pandai berbicara (dia kerja sebagai marketing salah satu perusahaan ansuransi di bandung). Setelah sampai hotel "IP" didaerah Ngagel dan pesan kamar, kami langsung masuk kamar. Ketika dia menyusun pakaiannya ke dalam lemari, kupeluk dari belakang dan kucium tengkuknya yang putih halus. Linda mengelinjang kegelian.
"Jangan don, geli neh" kata Linda.
"Kan geli-geli enak" jawabku sambil memutar tubuh Linda sehingga kami berhadapan.
Dengan agak membungkuk kucium jidatnya (dia tingginya 155/45), Linda memejamkan matanya sambil menikmati ciumanku. Kemudian kucium bibirnya yang tipis dan sexy, dia mendesah dan membalas ciumanku dan ternyata dia sangat ahli dan hal ciuman. Lidahnya bermain dimulutku dan kontan saja Mr. P ku yang dari tadi sudah keras jadi makin mengeras.
Kemudian kugendong tubuhnya dan kubaringkan di kasur perlahan-lahan. Lalu kucium lehernya yang jenjang dan putih mulus dan tangankupun mulai merayap ke arah dadanya, Linda mengerang perlahan menahan rangsangan yang sudah ditahannya selama bertahun-tahun. Kemudian kujilati kupingnya yang mungil dan bersih, Linda menjerit agak keras karena ternyata letak rangsangan paling hebat yang dirasakannya saat di jilatin kupingnya. Tanganku perlahan membuka bajunya dan nampaklah tubuhnya yang putih mulus dan terpampang sepasang apel yang mungil di balut dengan Bra pink.
"Gilaa!! Tubuhnya seperti tubuh gadis berumur 20 tahunan" pikirku.
Lalu kujilati seluruh leherdan kuping dan turun kebawah sambil tanganku meremas-remas lebut payudaranya yang masih dibalut dengan bra pink tersebut. Kemudian kulepas bra Linda dan Linda mulai berani membuka kaosku. Wah, benar-benar luar biasa indahnya tubuh Linda, putih mulus dan kencang, ternyata dia benar-benar merawat tubuhnya dengan baik. Kujilat puting susunya yang sebelah kanan sambil tangan kiriku mengelus-elus susunya yang kiri.
"Oughh, Don, hisap sayang" kata Linda sambil menggelinjang-gelinjang keenakan.
"Sabar sayang" jawabku.
Kemudian ku hisap puting susunya yang kanan dan tangan kiriku memuntir-muntir puting yang satunya. Linda menggeliat-geliat sambil tangannya mencengkeram punggungku dan mulutnya menjerit-jerit perlahan.
"Uhh enak banget Don.. Kamu hebat sayang. Hisap terus sayang.. yang kuat" ceracau Linda didalam rangsangannya
Kemudian setelah puas dengan puting yang kanan, mulutku ganti memainkan puting yang sebelah kiri, menghisap, menjilat, dan menggigit-gigit kecil putingnya sambil tanganku membuka kancing celananya. Ternyata Linda nggak mau kalah, dia berusaha membuka celanaku juga. Terpaksa kuhentikan kegiatan mulutku. Dan kemudian kubuka celanannya dan membuka celanaku sendiri.
Woowww.. Terpampang dihadapanku sepasang paha putih mulus yang di sela-sela paha tersebut terdapat gundukan bukit kecil yang masih tertutup celana dalamnya yang berwarna pink juga seperti warna BH dia. Nampak bulu-bulu hitam halus membayang dibalik celana dalamnya yang berwarna pink. Kemudian kubuka celana dalamnya, terpampanglah sebuah bukit kecil yang ditumbuhi dengan hutan yang tak begitu lebat. Indah
Kemudian kudekatkan mukaku ke sela paha Linda, tercium bau harus khas vagina sangat merangsang. Kubuka belahan vaginanya perlahan dengan kedua belah jariku. Nampak sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan. Bukit kecil dengan warna serba pink hamper sewarna dengan warna celana dalam dan branya. Kemudian kujilat clitsnya hingga Linda terlonjak dan kemudian menjerit-jerit keenakan. Dan kumasukan lidahku ke lubang vaginanya yang masih sangat sempit itu, tak peduli dengan jeritan Linda yang keras mungkin terdengar sampai depan pintu kamar hotel seandainya ada orang disana, kuhisap lubang vaginanya yang sudah banjir dengan air maninya karena Linda sudah orgasme sebanyak 2 kali selama pemanasan ini, Linda kemudian menagang dan menyemprotlah air mani bak air mancur kemulutku, banjirlah mulutku dengan air mani Linda yang histeris itu dan kutelan air maninya semua dan kujilat seluruh vaginanya hingga kering.
"Enak banget air mani kamu Linda" kataku.
"Ayo don.. Jangan siksa aku, masukkan punyamu" kata Linda merengek.
"Bentar donk, ini kan belum apa-apa sayang" kataku.
Tapi tangan Linda kemudian menarik celana dalamku hingga lepas. Mencuat keluarlah Mr. P ku yang emang sejak tadi tegang. Mendelik mata Linda melihat acungan mr P ku yang sudah tegang 100%.
"Oww!! Besar banget Don, mana muat masuk ke lubang vaginaku" seru Linda.
Emang pennisku ukurannya lumayan besar, panjang penniesku 17 cm dan diameter sekitar 4 cm.
"Tenang aja.. Pasti bisa masuk kok" kataku cuek.
Tangan Linda menggapai pennisku dan mengocok2nya pennisku dengan semangat dan aku kemudian melanjutkan kegiatanku di seputar dada dia dan tanganku bermain di di vagina Linda. Linda kemudian mendekatkan mulutnya ke pennisku dan menjilatinya. Tapi kularang, karena aku memang suka mengoral vagina cewek tapi aku kurang suka di oral pennisku karena pacarku yang dulu paling enggak suka mengoral penis.
"Enggak usah di jilatin deh rudalku itu lin" kataku.
"Kamu enggak suka ya" tanya Linda.
"Kurang suka she, soalnya aku bersifat memuaskan cewek bukan memuaskan diriku sendiri" jawabku.
"Kayak gigolo aja" kata linda sambil ketawa.
Aku Cuma tersenyum dan kemudian melanjutkan kegiatan mulutku yang menjilati seluruh tubuh Linda dan tangankupun gencar meremas susunya dan bergerilya di sekitar pahanya. Linda menggeliat-geliat menikmati seluruh kegiatanku dan mulutnya menjerit-jerit keras sambil tangannya menjambak-jambak rambutku. Setelah hamper 35 menit melakukan pemanasan, Linda menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
"Don masukan donk.. Jangan siksa aku kayak gini, please, please honey.." kata Linda memohon.
Aku mengangguk kepala sambil mengarahkan rudalku ke lubang vagina linda, kemudian kugesek-gesekan kepala rudalku ke vagina Linda. Linda mendesah-desah dan dia mengangkat pantatnya supaya rudalku masuk ke vagina diatapi karena lubang vagina Linda sangat sempit mungkin karena lama nggak dipake main dan juga vagina Linda berukuran mungil hingga yang masuk hanya kepala rudalku. Lalu kutekan rudalku ke dalam lubang vagina Linda tapi ternyata enggak bisa masuk juga, kupaksakan rudalku masuk ke lubang vagina Linda hingga masuk rudalku setengah dan Linda menjerit kesakitan.
"Sorry, sayang. Habis susah banget masuk ke lubang vagina kamu sih, kamu masih perawan ya" tanyaku.
"Nggak. Aku dulu sering main juga jadi enggak mungkin aku masih perawan. Kontol kamu aja yang kegedean hingga susah masuk ke vaginaku" kata Linda.
Kukeluar masukan rudalku yang baru masuk setengah supaya licin dan bisa masuk ke vagina Linda dengan mulus. Linda menggoyang-goyangkan pantatnya sambil mendesah-desah keenakan, kemudian kutekan rudalku ke dalam vagina Linda hingga masuk semua rudalku ke dalam lubang vaginanya.
"Aduh sakit Don" jerit Linda.
Kudiamkan rudalku yang tertancap penuh di lubang vagina Linda sambil tanganku meremas-remas pantatnya dan mulutku menjilati leher dan telinganya untuk menetralisir rasa sakit Linda akibat masuknya rudalku ke lubang vaginanya. Linda mulai melupakan rasa sakit di vaginanya dan dia menggelinjang-gelinjang kenikmatan merasakan rangsangan akibat permainan lidahku dan gigitan-gigitan kecilku di kupingnya serta remasan di pantatnya yang montok.
Setelah kulihat Linda menikmati jilatan dan remasanku sampai matanya mendelik-ndelik akibat menahan nikmatnya rangsanganku dan mulutnya juga sudah mulai berteriak-teriak histeris baru kukeluar masukan rudalku perlahan-lahan supaya Linda tidak merasakan kesakitan akibat keluar masuknya rudalku yang ukurannya over karena ukuran vagina dia mungil.
"Oughh yes. Terus Don. Lebih cepat Don. Oughh nikmat" kata Linda diantara jeritan kenikmatan dia.
"Kamu hebat Don. Lebih cepat.. Aku mau keluar neh" kata Linda lagi.
Kemudian kukeluar masukan rudalku didalam vagina Linda dan kurasakan ada tegangan didalam vagina Linda sehingga lubang vagina Linda semakin sempit. Seolah-olah rudalku dipijit-pijit oleh sesuatu yang hangat didalam vaginanya. Semakin kupercepat kocokan rudalku didalam vagina Linda hingga kurasakan tubuh Linda menegang kaku dan tangannya mencakar punggungku hingga agak pedih tapi aku nggak peduli dengan pedih tersebut, kuperhatikan mata Linda mendelik dan mulutnya menjerit-jerit mengucapkan kata-kata yang enggak jelas. Kemudian kutekan rudalku dalam-dalam hingga menyentuh dasar rahim Linda dan kudiamkan.
"Aarrgg" jerit Linda kemudian tubuhnya lemas dan mata terpejam.
Kemudian ku peluk tubuhnya yang mungil memberi kesempatan dia beristirahat dulu tanta mencabut rudalku didalam vaginanya. Setelah kupikir dia sudah cukup puas menikmati istirahatnya baru kemudian tangan dan lidahku beraksi untuk merangsang nafsu Linda lagi. Nampaknya nafsu Linda sudah terbangkit lagi, nampak dari gerakan tubuhnya dan mulutnya sudah mulai mendesah-desah keenakan.
Kemudian mendadak kucabut rudalku dari lubang vaginanya, dan Linda nampak kecewa tapi aku enggak perduli dan kubalikan tubuh Linda dan kusuruh nungging. Lalu kumasukan rudalku ke lubang vagina Linda dari arah belakang (doggy style). Kuhentakan rudalku dan kemudian masuk seluruh rudalku ke dalam vagina Linda sampai tubuh Linda tersentak dan mulutnya bunyi "ngekk!!"
"Aduh Don, nikmat banget" rintih Linda.
Kukeluar masukan rudalku dengan cepat dan tanganku meremas-remas kedua susu Linda dari belakang karena posisiku sambil memeluk punggung Linda. Tangan Linda mencakar-cakar kasur dan mulutnya menjerit-jerit keras.
"Don.. Aku mau keluar lagi" kata Linda.
"Keluarin aja sayang" jawabku.
Kupercepat kocokan rudalku dan tiba-tiba tubuh Linda menegang dan mulutnya menjerit keras, kurasakan ada cairan hangat menyiram kepala rudalku dari dalam lubang vagina Linda. Linda mengalami orgasmenya yang ke lima kali. Kudiamkan rudalku didalam vagina Linda selama dua menit kemudian kukocok lagi perlahan-lahan dan kemudian cepat, Linda ternyata nafsunya sangat kuat juga kemudian dia minta aku berhenti dan mencabut rudalku dari dalam lubang vaginanya. Kemudian aku disuruh terlentang dan dia mengangkangiku dan memasukan rudalku ke dalam vaginanya dari atas.
Kemudian dia menggoyang-goyang pantantnya dan terkadang dia agak memutar-mutar tubuhnya hinggan terasa sentuhan-sentuhan dinding rahimnya di kepala rudalku. Nampaknya Linda mau keluar lagi hingga dia mempercepat goyangan pantatnya dan akupun meremas-remas pantatnya untuk menambah kenikmatannya dalam mencapai orgasme keenamnya.
Terasa tubuh Linda menegang dan kurasakan cairan hangat menyiram rudalku kulihat air maninya menetes kebawah karena lubang vaginanya nggak muat menampung air maninya. Kemudian tanpa mencabut rudalku dari dalam vaginanya kurebahkan tubuh Linda disampingku dan kurubah posisiku kembali diatasnya. Kupeluk Linda dari atas.
Setelah orgasme ke 11 kalinya Linda nampak sangat lemas dan aku merasa kasihan melihat dia kecapean. Terbayang diwajahnya dia begitu lelah.
"Don, kok kamu belum keluar juga sayang. Keluarin donk. Please.. Aku sudah nggak kuat neh. Badanku sudah lemes banget dan vaginaku sudah terasa linu. Tolong donk sayang, aku nggak mau hanya aku yang merasa puas" kata Linda sambil memohon kepadaku
"Oke deh. Aku emang bentar lagi keluar kok. Aku juga sudah capek nih" jawabku.
Kemudian Linda menggoyang-goyang pantatnya perlahan. Dan aku mulai menggerakan rudalku keluar masuk lubang vagina Linda sehingga Linda dengan sisa-sisa tenaganya yang sudah terkuran di sebelas kilmaxnya itu mulai menggerak-gerakan tubuhnya dan mencengkeram punggungku dengan keras dan mulutnya mendesah-desah tidak berteriak-teriak kayak sebelumnya mungkin karena tenaganya sudah terkuras habis.
"Don, aku mau keluar lagi nih, keluar bareng yukk" kata Linda memelas.
"Iya.. Aku juga sudah mau keluar neh sayang" jawabku sambil mengocok-ngockkan rudalku dengan cepat ke lubang vaginanya.
Kurasakan lubang vagina Linda mulai menyempit kembali dan kurasakan ada sesuatu yang mengalir dari dalam tubuhku menuju rudalku dan kemudian hentakkan rudalku ke dalam lubang vagina Linda hingga menyentuh dinding rahim Linda. Bagai banjir keluarlah air maniku dan muncrat ke dalam lubang rahim Linda.
"Aaargg" jerit Linda.
Nampaknya Linda juga orgasme dan kami bareng menumpahkan air mani kami. Dan tubuh Linda mulai melemas. Lalu kupeluk tubuh Linda yang mungil dan kucium jidatnya. Kemudian kucabut rudalku dari lubang vagina Linda, Linda memejamkan mata menikmati gesekan kulit pada liang vaginanya akibat kucabut rudalku dari dalam liang vaginanya.
Kemudian aku berbaring disamping Linda dan kupeluk tubuhnya yang basah dengan keringat itu.
"Kamu puas enggak sayang," tanya Linda kepadaku.
"Puas banget, vaginamu sangat enak dan aku baru sekali ini menemui vagina yang enak seperti ini hingga membuat aku puas banget" kataku jujur.
"Tapi aku enggak kuat lagi kalau nanti kamu minta main lagi, mungkin besok baru aku bisa soalnya vaginaku linu mungkin karena kamu main terlalu lama dan kontolmu kegedean" katanya.
"Nggak apa-apa.. Kita tidur aja dan besok kita lanjutkan lagi" jawabku sambil mencium pipinya.
Linda kemudian memelukku dengan erat. Kulihat matanya mulai terpejam dan tak lama kemudian dia tertidur pulas didalam pelukanku. Dan akupun mulai merasakan capeknya tubuhku dan tak lama kemudian aku tertidur pulas. Kami melakukan itu selama 3 hari 3 malam karena kami harus kerja dan dia kemudian pulang ke Bandung dan kami ketemu sebulan dua kali. Gantian saling mengunjungi.
Suatu hari ketika aku chatting di kamar, tiba-tiba menyapa seorang cewek (umur 41 tahun) dan selanjutkan kami kenalan ternyata namanya Linda, kami chatting sampai 3 jam lamanya dan aku sangat suka dengan type cewek ini karena dia sangat terbuka masalah sex.
Setelah selesai chatting dan kami bertukar nomer handphone, tiba-tiba malamnya HPku berbunyi, ternyata Linda yang SMS aku. Dia bilang boleh telpon aku atau tidak, jadi kujawab aja boleh. Kemudain tak lama kemudian dia telepon. Setelah ngobrol-ngobrol banyak dia mengaku bahwa dia berasal dari bandung dan dia ternyata masih single karena trauma dengan pacarnya dulu. Karena sifat dia yang terbuka maka kami cepat akrab dan ngobrol banyak hal tertama tentang sex.
Kubilang kalau aku orangnya agak hypersex dia malah jadi penasaran dan ingin mencoba karena cowoknya dulu hanya tahan sebentar karena hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak mementingkan kepuasan pasangannya. Dan aku bilang padanya kalau aku belum bisa orgasme kalau pasanganku belum keluar minimal 3 kali (3 kali orgasme).
"Wah hebat donk kalau gitu" kata Linda di telpon.
"Ah biasa aja" jawabku santai karena ku anggap itu hal yang lumrah.
"Seandainya aku punya cowok kayak kamu betapa bahagianya aku" kata Linda lagi.
"Aku mau kok jadi cowok kamu" kataku nekad.
"Kamu kan baru umur 25 tahun sedangkan aku sudah 41 tahun, kamu mana mau ama cewek setua aku, kan kamu bias cari cewek yang sebaya sama kamu" kata Linda.
"Kurang enak she kalau ama cewek yang sebaya atau lebih muda dari aku, soalnya aku paling suka cewek yang jauh lebih tua dibanding aku, biasanya cewek yang jauh lebih tua dari aku yang bias ngimbangi nafsu sex ku yang kuat ini" jawabku.
"Jadi kamu mau jadi pacarku" kata Linda setengah tidak percaya.
"Swear. Aku senang banget jika kamu mau jadi pacarku" jawabku yakin.
"Tapi jarak kita kan jauh, kamu di surabaya sedangkan aku di bandung. Jadi kita jarang ketemu donk" kata Linda.
"Masalah jarak kan enggak masalah kan kita bisa gantian datang ke kota masing-masing. Siapa yang bisa lah" kataku.
"Wah.. kalau gitu kamu kesini donk"kata Linda penuh harap.
"Kalau sekarang enggak bisa deh.. Soalnya aku lagi bokek berat neh.. kalau kamu mau datang aja ke Surabaya sekaligus lihat-lihat kota Surabaya" kataku setangah membujuk.
Setelah dibujuk-bujuk dan omong-omong ternyata dia mau ke Surabaya besok pagi dan minta di jemput di airport. Setelah janjian kemudain dia tutup telponnya karena sudah tengah malam dan dia harus bangun pagi besok.
Paginya kira-kira pukul 08:00 aku sudah menunggu Linda di airport. Setelah diumumkan bahwa pesawat merpati dari bandung telah tiba, maka aku siap-siap di lokasi kedatangan. Tiba-tiba HP ku berbunyi, ternyata Linda yang telepon.
"Kamu yang mana don" tanya Linda.
"Aku yang pake baju item dan pake kacamata" jawabku.
"Aku pake baju biru muda, aku sudah lihat kamu, nampak nggak aku melambai" kata Linda.
Kulihat seorang wanita berbaju biru muda melambaikan tangan kepadaku, dan aku menghampirinya. Aku kaget banget, ternyata dia cewek Chinese dan dari wajahnya kayak baru umur 35 tahunan, bodynya ramping, kulitnya putih halus, rambutnya sebahu dan kuperhatiin dadanya, ternyata dia punya payudara kecil, menurut perkiraanku ukuran payudaranya 34A. Tapi dia seorang wanita yang sangat menarik dan orang tak akan menyagka kalau dia sudah berumur 41 tahun. Pasti orang mengira dia berumur 35-an tahun.
Setelah naik taxi dan ngobrol juga saling memperhatikan kami serasa sudah kenal berbulan-bulan mungkin karena dia pandai berbicara (dia kerja sebagai marketing salah satu perusahaan ansuransi di bandung). Setelah sampai hotel "IP" didaerah Ngagel dan pesan kamar, kami langsung masuk kamar. Ketika dia menyusun pakaiannya ke dalam lemari, kupeluk dari belakang dan kucium tengkuknya yang putih halus. Linda mengelinjang kegelian.
"Jangan don, geli neh" kata Linda.
"Kan geli-geli enak" jawabku sambil memutar tubuh Linda sehingga kami berhadapan.
Dengan agak membungkuk kucium jidatnya (dia tingginya 155/45), Linda memejamkan matanya sambil menikmati ciumanku. Kemudian kucium bibirnya yang tipis dan sexy, dia mendesah dan membalas ciumanku dan ternyata dia sangat ahli dan hal ciuman. Lidahnya bermain dimulutku dan kontan saja Mr. P ku yang dari tadi sudah keras jadi makin mengeras.
Kemudian kugendong tubuhnya dan kubaringkan di kasur perlahan-lahan. Lalu kucium lehernya yang jenjang dan putih mulus dan tangankupun mulai merayap ke arah dadanya, Linda mengerang perlahan menahan rangsangan yang sudah ditahannya selama bertahun-tahun. Kemudian kujilati kupingnya yang mungil dan bersih, Linda menjerit agak keras karena ternyata letak rangsangan paling hebat yang dirasakannya saat di jilatin kupingnya. Tanganku perlahan membuka bajunya dan nampaklah tubuhnya yang putih mulus dan terpampang sepasang apel yang mungil di balut dengan Bra pink.
"Gilaa!! Tubuhnya seperti tubuh gadis berumur 20 tahunan" pikirku.
Lalu kujilati seluruh leherdan kuping dan turun kebawah sambil tanganku meremas-remas lebut payudaranya yang masih dibalut dengan bra pink tersebut. Kemudian kulepas bra Linda dan Linda mulai berani membuka kaosku. Wah, benar-benar luar biasa indahnya tubuh Linda, putih mulus dan kencang, ternyata dia benar-benar merawat tubuhnya dengan baik. Kujilat puting susunya yang sebelah kanan sambil tangan kiriku mengelus-elus susunya yang kiri.
"Oughh, Don, hisap sayang" kata Linda sambil menggelinjang-gelinjang keenakan.
"Sabar sayang" jawabku.
Kemudian ku hisap puting susunya yang kanan dan tangan kiriku memuntir-muntir puting yang satunya. Linda menggeliat-geliat sambil tangannya mencengkeram punggungku dan mulutnya menjerit-jerit perlahan.
"Uhh enak banget Don.. Kamu hebat sayang. Hisap terus sayang.. yang kuat" ceracau Linda didalam rangsangannya
Kemudian setelah puas dengan puting yang kanan, mulutku ganti memainkan puting yang sebelah kiri, menghisap, menjilat, dan menggigit-gigit kecil putingnya sambil tanganku membuka kancing celananya. Ternyata Linda nggak mau kalah, dia berusaha membuka celanaku juga. Terpaksa kuhentikan kegiatan mulutku. Dan kemudian kubuka celanannya dan membuka celanaku sendiri.
Woowww.. Terpampang dihadapanku sepasang paha putih mulus yang di sela-sela paha tersebut terdapat gundukan bukit kecil yang masih tertutup celana dalamnya yang berwarna pink juga seperti warna BH dia. Nampak bulu-bulu hitam halus membayang dibalik celana dalamnya yang berwarna pink. Kemudian kubuka celana dalamnya, terpampanglah sebuah bukit kecil yang ditumbuhi dengan hutan yang tak begitu lebat. Indah
Kemudian kudekatkan mukaku ke sela paha Linda, tercium bau harus khas vagina sangat merangsang. Kubuka belahan vaginanya perlahan dengan kedua belah jariku. Nampak sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan. Bukit kecil dengan warna serba pink hamper sewarna dengan warna celana dalam dan branya. Kemudian kujilat clitsnya hingga Linda terlonjak dan kemudian menjerit-jerit keenakan. Dan kumasukan lidahku ke lubang vaginanya yang masih sangat sempit itu, tak peduli dengan jeritan Linda yang keras mungkin terdengar sampai depan pintu kamar hotel seandainya ada orang disana, kuhisap lubang vaginanya yang sudah banjir dengan air maninya karena Linda sudah orgasme sebanyak 2 kali selama pemanasan ini, Linda kemudian menagang dan menyemprotlah air mani bak air mancur kemulutku, banjirlah mulutku dengan air mani Linda yang histeris itu dan kutelan air maninya semua dan kujilat seluruh vaginanya hingga kering.
"Enak banget air mani kamu Linda" kataku.
"Ayo don.. Jangan siksa aku, masukkan punyamu" kata Linda merengek.
"Bentar donk, ini kan belum apa-apa sayang" kataku.
Tapi tangan Linda kemudian menarik celana dalamku hingga lepas. Mencuat keluarlah Mr. P ku yang emang sejak tadi tegang. Mendelik mata Linda melihat acungan mr P ku yang sudah tegang 100%.
"Oww!! Besar banget Don, mana muat masuk ke lubang vaginaku" seru Linda.
Emang pennisku ukurannya lumayan besar, panjang penniesku 17 cm dan diameter sekitar 4 cm.
"Tenang aja.. Pasti bisa masuk kok" kataku cuek.
Tangan Linda menggapai pennisku dan mengocok2nya pennisku dengan semangat dan aku kemudian melanjutkan kegiatanku di seputar dada dia dan tanganku bermain di di vagina Linda. Linda kemudian mendekatkan mulutnya ke pennisku dan menjilatinya. Tapi kularang, karena aku memang suka mengoral vagina cewek tapi aku kurang suka di oral pennisku karena pacarku yang dulu paling enggak suka mengoral penis.
"Enggak usah di jilatin deh rudalku itu lin" kataku.
"Kamu enggak suka ya" tanya Linda.
"Kurang suka she, soalnya aku bersifat memuaskan cewek bukan memuaskan diriku sendiri" jawabku.
"Kayak gigolo aja" kata linda sambil ketawa.
Aku Cuma tersenyum dan kemudian melanjutkan kegiatan mulutku yang menjilati seluruh tubuh Linda dan tangankupun gencar meremas susunya dan bergerilya di sekitar pahanya. Linda menggeliat-geliat menikmati seluruh kegiatanku dan mulutnya menjerit-jerit keras sambil tangannya menjambak-jambak rambutku. Setelah hamper 35 menit melakukan pemanasan, Linda menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
"Don masukan donk.. Jangan siksa aku kayak gini, please, please honey.." kata Linda memohon.
Aku mengangguk kepala sambil mengarahkan rudalku ke lubang vagina linda, kemudian kugesek-gesekan kepala rudalku ke vagina Linda. Linda mendesah-desah dan dia mengangkat pantatnya supaya rudalku masuk ke vagina diatapi karena lubang vagina Linda sangat sempit mungkin karena lama nggak dipake main dan juga vagina Linda berukuran mungil hingga yang masuk hanya kepala rudalku. Lalu kutekan rudalku ke dalam lubang vagina Linda tapi ternyata enggak bisa masuk juga, kupaksakan rudalku masuk ke lubang vagina Linda hingga masuk rudalku setengah dan Linda menjerit kesakitan.
"Sorry, sayang. Habis susah banget masuk ke lubang vagina kamu sih, kamu masih perawan ya" tanyaku.
"Nggak. Aku dulu sering main juga jadi enggak mungkin aku masih perawan. Kontol kamu aja yang kegedean hingga susah masuk ke vaginaku" kata Linda.
Kukeluar masukan rudalku yang baru masuk setengah supaya licin dan bisa masuk ke vagina Linda dengan mulus. Linda menggoyang-goyangkan pantatnya sambil mendesah-desah keenakan, kemudian kutekan rudalku ke dalam vagina Linda hingga masuk semua rudalku ke dalam lubang vaginanya.
"Aduh sakit Don" jerit Linda.
Kudiamkan rudalku yang tertancap penuh di lubang vagina Linda sambil tanganku meremas-remas pantatnya dan mulutku menjilati leher dan telinganya untuk menetralisir rasa sakit Linda akibat masuknya rudalku ke lubang vaginanya. Linda mulai melupakan rasa sakit di vaginanya dan dia menggelinjang-gelinjang kenikmatan merasakan rangsangan akibat permainan lidahku dan gigitan-gigitan kecilku di kupingnya serta remasan di pantatnya yang montok.
Setelah kulihat Linda menikmati jilatan dan remasanku sampai matanya mendelik-ndelik akibat menahan nikmatnya rangsanganku dan mulutnya juga sudah mulai berteriak-teriak histeris baru kukeluar masukan rudalku perlahan-lahan supaya Linda tidak merasakan kesakitan akibat keluar masuknya rudalku yang ukurannya over karena ukuran vagina dia mungil.
"Oughh yes. Terus Don. Lebih cepat Don. Oughh nikmat" kata Linda diantara jeritan kenikmatan dia.
"Kamu hebat Don. Lebih cepat.. Aku mau keluar neh" kata Linda lagi.
Kemudian kukeluar masukan rudalku didalam vagina Linda dan kurasakan ada tegangan didalam vagina Linda sehingga lubang vagina Linda semakin sempit. Seolah-olah rudalku dipijit-pijit oleh sesuatu yang hangat didalam vaginanya. Semakin kupercepat kocokan rudalku didalam vagina Linda hingga kurasakan tubuh Linda menegang kaku dan tangannya mencakar punggungku hingga agak pedih tapi aku nggak peduli dengan pedih tersebut, kuperhatikan mata Linda mendelik dan mulutnya menjerit-jerit mengucapkan kata-kata yang enggak jelas. Kemudian kutekan rudalku dalam-dalam hingga menyentuh dasar rahim Linda dan kudiamkan.
"Aarrgg" jerit Linda kemudian tubuhnya lemas dan mata terpejam.
Kemudian ku peluk tubuhnya yang mungil memberi kesempatan dia beristirahat dulu tanta mencabut rudalku didalam vaginanya. Setelah kupikir dia sudah cukup puas menikmati istirahatnya baru kemudian tangan dan lidahku beraksi untuk merangsang nafsu Linda lagi. Nampaknya nafsu Linda sudah terbangkit lagi, nampak dari gerakan tubuhnya dan mulutnya sudah mulai mendesah-desah keenakan.
Kemudian mendadak kucabut rudalku dari lubang vaginanya, dan Linda nampak kecewa tapi aku enggak perduli dan kubalikan tubuh Linda dan kusuruh nungging. Lalu kumasukan rudalku ke lubang vagina Linda dari arah belakang (doggy style). Kuhentakan rudalku dan kemudian masuk seluruh rudalku ke dalam vagina Linda sampai tubuh Linda tersentak dan mulutnya bunyi "ngekk!!"
"Aduh Don, nikmat banget" rintih Linda.
Kukeluar masukan rudalku dengan cepat dan tanganku meremas-remas kedua susu Linda dari belakang karena posisiku sambil memeluk punggung Linda. Tangan Linda mencakar-cakar kasur dan mulutnya menjerit-jerit keras.
"Don.. Aku mau keluar lagi" kata Linda.
"Keluarin aja sayang" jawabku.
Kupercepat kocokan rudalku dan tiba-tiba tubuh Linda menegang dan mulutnya menjerit keras, kurasakan ada cairan hangat menyiram kepala rudalku dari dalam lubang vagina Linda. Linda mengalami orgasmenya yang ke lima kali. Kudiamkan rudalku didalam vagina Linda selama dua menit kemudian kukocok lagi perlahan-lahan dan kemudian cepat, Linda ternyata nafsunya sangat kuat juga kemudian dia minta aku berhenti dan mencabut rudalku dari dalam lubang vaginanya. Kemudian aku disuruh terlentang dan dia mengangkangiku dan memasukan rudalku ke dalam vaginanya dari atas.
Kemudian dia menggoyang-goyang pantantnya dan terkadang dia agak memutar-mutar tubuhnya hinggan terasa sentuhan-sentuhan dinding rahimnya di kepala rudalku. Nampaknya Linda mau keluar lagi hingga dia mempercepat goyangan pantatnya dan akupun meremas-remas pantatnya untuk menambah kenikmatannya dalam mencapai orgasme keenamnya.
Terasa tubuh Linda menegang dan kurasakan cairan hangat menyiram rudalku kulihat air maninya menetes kebawah karena lubang vaginanya nggak muat menampung air maninya. Kemudian tanpa mencabut rudalku dari dalam vaginanya kurebahkan tubuh Linda disampingku dan kurubah posisiku kembali diatasnya. Kupeluk Linda dari atas.
Setelah orgasme ke 11 kalinya Linda nampak sangat lemas dan aku merasa kasihan melihat dia kecapean. Terbayang diwajahnya dia begitu lelah.
"Don, kok kamu belum keluar juga sayang. Keluarin donk. Please.. Aku sudah nggak kuat neh. Badanku sudah lemes banget dan vaginaku sudah terasa linu. Tolong donk sayang, aku nggak mau hanya aku yang merasa puas" kata Linda sambil memohon kepadaku
"Oke deh. Aku emang bentar lagi keluar kok. Aku juga sudah capek nih" jawabku.
Kemudian Linda menggoyang-goyang pantatnya perlahan. Dan aku mulai menggerakan rudalku keluar masuk lubang vagina Linda sehingga Linda dengan sisa-sisa tenaganya yang sudah terkuran di sebelas kilmaxnya itu mulai menggerak-gerakan tubuhnya dan mencengkeram punggungku dengan keras dan mulutnya mendesah-desah tidak berteriak-teriak kayak sebelumnya mungkin karena tenaganya sudah terkuras habis.
"Don, aku mau keluar lagi nih, keluar bareng yukk" kata Linda memelas.
"Iya.. Aku juga sudah mau keluar neh sayang" jawabku sambil mengocok-ngockkan rudalku dengan cepat ke lubang vaginanya.
Kurasakan lubang vagina Linda mulai menyempit kembali dan kurasakan ada sesuatu yang mengalir dari dalam tubuhku menuju rudalku dan kemudian hentakkan rudalku ke dalam lubang vagina Linda hingga menyentuh dinding rahim Linda. Bagai banjir keluarlah air maniku dan muncrat ke dalam lubang rahim Linda.
"Aaargg" jerit Linda.
Nampaknya Linda juga orgasme dan kami bareng menumpahkan air mani kami. Dan tubuh Linda mulai melemas. Lalu kupeluk tubuh Linda yang mungil dan kucium jidatnya. Kemudian kucabut rudalku dari lubang vagina Linda, Linda memejamkan mata menikmati gesekan kulit pada liang vaginanya akibat kucabut rudalku dari dalam liang vaginanya.
Kemudian aku berbaring disamping Linda dan kupeluk tubuhnya yang basah dengan keringat itu.
"Kamu puas enggak sayang," tanya Linda kepadaku.
"Puas banget, vaginamu sangat enak dan aku baru sekali ini menemui vagina yang enak seperti ini hingga membuat aku puas banget" kataku jujur.
"Tapi aku enggak kuat lagi kalau nanti kamu minta main lagi, mungkin besok baru aku bisa soalnya vaginaku linu mungkin karena kamu main terlalu lama dan kontolmu kegedean" katanya.
"Nggak apa-apa.. Kita tidur aja dan besok kita lanjutkan lagi" jawabku sambil mencium pipinya.
Linda kemudian memelukku dengan erat. Kulihat matanya mulai terpejam dan tak lama kemudian dia tertidur pulas didalam pelukanku. Dan akupun mulai merasakan capeknya tubuhku dan tak lama kemudian aku tertidur pulas. Kami melakukan itu selama 3 hari 3 malam karena kami harus kerja dan dia kemudian pulang ke Bandung dan kami ketemu sebulan dua kali. Gantian saling mengunjungi.
Cerita Dewasa NgeSeks Wanita Setengah Baya Pekerja Salon
Aku termasuk pria yang paling suka dengan wanita yang lebih tua dariku. Itu mulai dari umurku yang ke-30, sekarang umurku sudah mencapai 37. Memang tidak semua wanita yang lebih tua termasuk kesukaanku. Karena aku paling senang melihat yang terutama kulitnya berwarna kuning langsat. Apalagi ibu-ibu yang kerut mukanya tidak kalah dengan anak perawan saat ini. Ada kemungkinan biasanya mereka paling teratur merawat badan mulai dari minum jamu hingga luluran.
Sebulan yang lalu aku pergi kerumah sepupuku Ary di daerah Bogor, kebetulan rumahnya berada didalam gang yang tidak bisa masuk mobil. Jadi mobilku aku parkir di depan gang dekat sebuah salon. Setiba dirumah Ary, aku disambut oleh istrinya. Memang istri si Ary yang bernama Sandra 30 tahun memang dikategorikan sangat sexy, apalagi dia hanya mengenakan daster.
"Mas Ary sedang ke Pak RT sebentar Mas, nanti juga balik," sapa si Sandra.
"Oh ya.." jawabku singkat.
Aku disuruh duduk diruang tamu, lalu dia kembali dengan satu cangkir the manis, karena kursi diruang tamu agak pendek, maka dengan tidak sengaja aku dapat melihat persis sembulan kedua belah dada si Sandra yang tidak mengenakan BH. Wach pagi-pagi sudah dibuat pusing nich pikirku. Tapi aku hilangkan pikiranku jauh-jauh, karena aku pikir dia sudah termasuk keluargaku juga.
Akhirnya setelah Ary tiba, kami bertiga ngobrol hingga sore hari. Lalu aku izin untuk menghirup udara sore sendirian, karena aku akan nginap dirumah si Ary hingga besok pagi. Aku berjalan kedepan gang sambil melihat mobilku, apakah aman parkir disana. Setelah melihat mobil aku mampir ke salon sebentar untuk gunting rambut yang kebetulan sudah mulai panjang. Disana aku dilayani oleh seorang ibu, umur kurang lebih 40-45 tahun, kulit kuning langsat, body seperti layaknya seorang ibu yang umurnya seperti diatas, gemuk tidak, kurus tidak, sedangkan raut mukanya manis dan belum ada tanda-tanda keriput dimakan usia, malah masih mulus, saya rasa ibu tsb sangat rajin merawat tubuhnya terutama mukanya.
"Mas mau potong rambut atau creambath nich," sapa ibu tersebut.
"Mau potong rambut bu" jawabku.
Singkat cerita setelah selesai potong rambut ibu tersebut yang bernama Rini menawarkan pijat dengan posisi tetap dibangku salon. Setelah setuju sambil memijat kepala dan pundak saya, kami berkomunikasi lewat cermin di depan muka saya.
"Wach pijatan ibu enak sekali" sapaku.
"Yach biasa Mas, bila badan terasa cape benar, memang pijatan orang lain pasti terasa enak" jawabnya.
"Ibu juga sering dipijat kalau terlalu banyak terima tamu disalon ini, soalnya cape juga Mas bila seharian potong/creambath rambut tamu sambil berdiri" jawabnya lagi.
"Sekarang ibu terasa cape enggak" tanyaku memancing.
"Memang Mas mau mijitin ibu" jawabnya.
"Wach dengan senang hati bu, gratis lho.. kalau enggak salah khan biasanya bila terlalu lama berdiri, betis ibu yang pegal-pegal, benar enggak bu?" pancingku lagi.
"Memang benar sich, tapi khan susah disini Mas" jawab Bu Rini sambil tersenyum.
Naluriku langsung berjalan cepat, berarti Bu Rini ini secara tidak langsung menerima ajakanku. Tanpa buang-buang waktu aku berkata "Bu, ibu khan punya asisten disini, gimana kalau aku pijit ibu diluar salon ini?" pancingku lagi.
"Mas mau bawa ibu kemana?" tanya Bu Rini.
"Sudahlah bu.. bila Bu Rini setuju, saya tunggu ibu dimobil di depan salon ini, terserah ibu dech mau bilang/alasan kemana ke asisten ibu" Ibu Rini mengangguk sambil tersenyum kembali.
Singkat cerita kami sudah berada didalam hotel dekat kebun raya Bogor. Ibu Rini mengenakan celana panjang, dengan baju terusan seperti gamis. Aku mempersilahkan Bu Rini telungkup diatas tempat tidur untuk mengurut betisnya, dia mengangguk setuju.
"Enggak nyusahin nich Mas"
"Tenang saja bu, enggak bayar koq bu, ini gratis lho." jawabku.
Lalu aku mulai mengurut tumit ke arah betis dengan body lotion. Celana panjang Bu Rini aku singkap hingga ke betisnya, tapi karena paha Bu Rini terlalu besar ujung celana bagian bawah tidak bisa terangkat hingga atas. Ini dia kesempatan yang memang aku tunggu.
"Bu maaf nich, bisa dibuka saja enggak celana ibu masalahnya nanti celana ibu kena body lotion, dan aku memijatnya kurang begitu leluasa, nanti ibu komplain nich"
Kulihat Bu Rini agak malu-malu saat membuka celana panjangnya, sambil langsung melilitkan handuk untuk menutupi celana dalamnya. Lalu aku mulai memijit betis beliau dengan lotion sambil perlahan-lahan menyingkap handuknya menuju pahanya. Kulihat dari belakang Bu Rini hanya mendesah saja, mungkin karena terasa enak pijitanku ini. Saat mulai memijit pahanya body lotion aku pergunakan agak banyak, dan handuk sudah tersingkap hingga punggungnya.
Aku mulai renggangkan kedua kaki Bu Rini, sambil memijat paha bagian dalam. Tampaknya Bu Rini menikmatinya. Tanpa buang waktu dalam keadaan terlungkup aku menarik celana dalam Bu Rini ke bawah sambil berkata "Maaf Bu yach".
Dia hanya mengangguk saja sambil terpejam matanya, mungkin karena Bu Rini sudah mulai terangsang saat aku pijit pahanya dengan lotion yang begitu banyak.
Wow kulihat pantat Bu Rini tersembul dengan belahan ditengahnya tanpa sehelai rambut yang mengelilingi vagina ibu tersebut. Aku mulai lagi memijit paha bagian atas hingga ke pantatnya dengan menggunakan kedua jempolku. Kutekan pantat Bu Rini hingga belahannya agak terbuka lebar, dengan sekali-kali aku sapu dengan keempat jariku mulai dari vagina ke atas hingga menyentuh lubang anusnya.
"Och.. Och.."
Hanya itu yang keluar dari mulut Bu Rini, rupanya dia mulai sangat amat terangsang, tapi dia type yang pasif, hanya menerima apa yang akan diperbuat kepadanya. Aku mulai nakal, kulumuri kelima jariku dengan lotion lalu aku mulai sapu dari anus hingga kebawah ke arah vagina ibu Rini dan diimbangi dengan makin naiknya pantat Bu Rini.
"Och.. Och.. Mas teruskan Mas.. Och.."
Pelan-pelan kumasukan jari telunjuk dan tengah ke dalam vaginanya, lalu kukocok hingga mentok kedinding bagian dalam vagina, sambil perlahan-lahan jempolku menekan lubang anus Bu Rini. Kulihat Bu Rini agak meringis sedikit, tapi tetap tidak ada sinyal menolak. Jempolku sudah masuk ke dalam anus Bu Rini, perlahan-lahan sambil kulumuri agak banyak body lotion kukocok juga lubang anus Bu Rini, hingga sekali tekan jempolku masuk ke lubang anus, sedangkan jari telunjuk dan tengah masuk ke vaginanya, dan aktifitas itu aku lakukan hingga 3 menit.
Dan kulihat Bu Rini sudah tidak lagi meringis tanda kesakitan disekitar lubang anusnya, tapi sudah terlihat diwajahnya rasa kenikmatan, meskipun matanya terus terpejam hanya beberapa kali tersengah.
"Och.. Och.."
Setelah itu aku jilat kuping Bu Rini dengan lidahku sambil berbisik.
"Aku masukan yach Bu kontolku"
Ibu Rini hanya mengangguk setuju tanpa membuka matanya. Lalu aku buka seluruh pakaianku, lalu aku ganjel perut Bu Rini dengan bantal yang kulipat, supaya pantat dan lubang vaginanya agak menguak ke atas. Lalu aku masukan kontolku ke dalam vagina Bu Rini dan kukocok hingga 15menit, lalu kulihat lendir putih sudah mulai keluar dari lubang vagina Bu Rini.
Rupanya Bu Rini sudah mencapai klimaks hingga mengeluarkan pejunya duluan, lalu aku seka dengan handuk dan kuayun kembali kontolku hingga 15 menit kemudian, hingga Bu Rini mencapai klimaks yang kedua kali. Sedangkan kontolku makin tegang saja tanpa isyarat akan memuncratkan peju. Karena sudah pegal juga pinggangku, aku ambil body lotion kulumuri anus Bu Rini sambil kubuka lubang anus tersebut hingga masuk ke dalam, lalu aku pelan-pelan menekan ujung kontolku hingga masuk ke dalam anus Bu Rini.
"Och.. Pelan-pelan Mas.." Bu Rini mengeluh.
Terus kutekan kontolku hingga masuk ke dalam anus Bu Rini, lalu pelan-pelan aku cabut kontolku. Memang kontolku terasa amat terjepit oleh lubang anus Bu Rini, ini membuat aku mulai terangsang. Kutekan lagi kontolku ke dalam lubang anus Bu Rini, dan pelan-pelan mulai kukocok lubang anus Bu Rini dengan kontolku ini sambil melumuri body lotion supaya lubang anus Bu Rini tidak lecet, terus kulakukan aktifitas ini hingga 5menit dan tiba-tiba peju dikontol mulai mengadakan reaksi ingin berlomba-lomba keluar. Lalu kucabut kontolku, dan kulepaskan seluruh pejuku bertebaran diatas sprei.
Setelah itu Bu Rini langsung membersihkan badannya kekamar mandi, lalu kususul Bu Rini di kamar mandi yang sudah tanpa sehelaipun benang ditubuhnya, lumayan bodynya cukup montok, tetenya sudah agak kendur tapi masih menantang seperti buah pepaya yang masih tergantung dipohon, perutnya juga sudah mulai ada lipatan lemaknya, tapi tetap enak dipandang, karena memang warna kulitnya seluruhnya kuning langsat. Lalu aku bantu Bu Rini saat hendak memakai sabun ditubuhnya, demikian juga aku dibantu juga oleh Bu Rini.
Setelah selesai mandi kontolku mulai bangun kembali, lalu kuminta Bu Rini untuk main kembali, Bu Rini memberikan isyarat ok. Dan kusuruh Bu Rini duduk dikursi tanpa mengenakan pakaian selembarpun, kuangkat kedua kakinya ke atas dengan posisi mengangkang lalu kusuruh Bu Rini memeluk kakinya kuat-kuat, lalu aku jongkok dan mulai menyapu vagina Bu Rini dengan lidahku, sambil jari telunjukku ikut masuk ke dalam vagina bagian bawah sambil mengocoknya. Disini Bu Rini tampak mendesah agak keras.
"Och.. Och.. Och.. Masukan saja Mas.. Aku enggak kuat"
Tanpa buang waktu lagi karena memang kontolku mulai keras kembali, kutekan kontolku ke dalam lubang vagina Bu Rini kembali sambil setengah berdiri, sedangkan kedua kaki Bu Rini sudah bersandar di depan bahuku, terus kusodok vagina Bu Rini dengan kontolku, hingga 30 menit lebih aku belum bisa juga mengeluarkan pejuku. Lalu kuminta Bu Rini untuk mengisap kontolku supaya cepat keluar pejuku ini.
Kedua kakinya kuturunkan lalu aku memegang kedua pipinya ke arah kontolku, lalu aku memasukan kembali kontolku ke dalam mulut Bu Rini, disini kulihat Bu Rini mengimbangi dengan isapan serta air liurnya yang mulai menetes dari mulutnya untuk membuatku cepat mencapai puncak. Memang benar-benar lihai Bu Rini, sebelum mencapai waktu lima menit aku sudah tidak tahan lagi menahan pejuku muncrat didalam mulutnya.
Setelah itu kami berdua membersihkan diri kembali kekamar mandi, lalu kami kembali ke salon Bu Rini. Sebelum keluar dari mobil, aku sempat berbisik kepada Bu Rini. Memang yang lebih tua, sangat paham dalam pengalaman dalam hal ini dibanding dengan yang masih muda. Bu Rini hanya tersenyum manis saja, sambil turun dari mobilku dan kembali masuk ke dalam salonnya.
Sebulan yang lalu aku pergi kerumah sepupuku Ary di daerah Bogor, kebetulan rumahnya berada didalam gang yang tidak bisa masuk mobil. Jadi mobilku aku parkir di depan gang dekat sebuah salon. Setiba dirumah Ary, aku disambut oleh istrinya. Memang istri si Ary yang bernama Sandra 30 tahun memang dikategorikan sangat sexy, apalagi dia hanya mengenakan daster.
"Mas Ary sedang ke Pak RT sebentar Mas, nanti juga balik," sapa si Sandra.
"Oh ya.." jawabku singkat.
Aku disuruh duduk diruang tamu, lalu dia kembali dengan satu cangkir the manis, karena kursi diruang tamu agak pendek, maka dengan tidak sengaja aku dapat melihat persis sembulan kedua belah dada si Sandra yang tidak mengenakan BH. Wach pagi-pagi sudah dibuat pusing nich pikirku. Tapi aku hilangkan pikiranku jauh-jauh, karena aku pikir dia sudah termasuk keluargaku juga.
Akhirnya setelah Ary tiba, kami bertiga ngobrol hingga sore hari. Lalu aku izin untuk menghirup udara sore sendirian, karena aku akan nginap dirumah si Ary hingga besok pagi. Aku berjalan kedepan gang sambil melihat mobilku, apakah aman parkir disana. Setelah melihat mobil aku mampir ke salon sebentar untuk gunting rambut yang kebetulan sudah mulai panjang. Disana aku dilayani oleh seorang ibu, umur kurang lebih 40-45 tahun, kulit kuning langsat, body seperti layaknya seorang ibu yang umurnya seperti diatas, gemuk tidak, kurus tidak, sedangkan raut mukanya manis dan belum ada tanda-tanda keriput dimakan usia, malah masih mulus, saya rasa ibu tsb sangat rajin merawat tubuhnya terutama mukanya.
"Mas mau potong rambut atau creambath nich," sapa ibu tersebut.
"Mau potong rambut bu" jawabku.
Singkat cerita setelah selesai potong rambut ibu tersebut yang bernama Rini menawarkan pijat dengan posisi tetap dibangku salon. Setelah setuju sambil memijat kepala dan pundak saya, kami berkomunikasi lewat cermin di depan muka saya.
"Wach pijatan ibu enak sekali" sapaku.
"Yach biasa Mas, bila badan terasa cape benar, memang pijatan orang lain pasti terasa enak" jawabnya.
"Ibu juga sering dipijat kalau terlalu banyak terima tamu disalon ini, soalnya cape juga Mas bila seharian potong/creambath rambut tamu sambil berdiri" jawabnya lagi.
"Sekarang ibu terasa cape enggak" tanyaku memancing.
"Memang Mas mau mijitin ibu" jawabnya.
"Wach dengan senang hati bu, gratis lho.. kalau enggak salah khan biasanya bila terlalu lama berdiri, betis ibu yang pegal-pegal, benar enggak bu?" pancingku lagi.
"Memang benar sich, tapi khan susah disini Mas" jawab Bu Rini sambil tersenyum.
Naluriku langsung berjalan cepat, berarti Bu Rini ini secara tidak langsung menerima ajakanku. Tanpa buang-buang waktu aku berkata "Bu, ibu khan punya asisten disini, gimana kalau aku pijit ibu diluar salon ini?" pancingku lagi.
"Mas mau bawa ibu kemana?" tanya Bu Rini.
"Sudahlah bu.. bila Bu Rini setuju, saya tunggu ibu dimobil di depan salon ini, terserah ibu dech mau bilang/alasan kemana ke asisten ibu" Ibu Rini mengangguk sambil tersenyum kembali.
Singkat cerita kami sudah berada didalam hotel dekat kebun raya Bogor. Ibu Rini mengenakan celana panjang, dengan baju terusan seperti gamis. Aku mempersilahkan Bu Rini telungkup diatas tempat tidur untuk mengurut betisnya, dia mengangguk setuju.
"Enggak nyusahin nich Mas"
"Tenang saja bu, enggak bayar koq bu, ini gratis lho." jawabku.
Lalu aku mulai mengurut tumit ke arah betis dengan body lotion. Celana panjang Bu Rini aku singkap hingga ke betisnya, tapi karena paha Bu Rini terlalu besar ujung celana bagian bawah tidak bisa terangkat hingga atas. Ini dia kesempatan yang memang aku tunggu.
"Bu maaf nich, bisa dibuka saja enggak celana ibu masalahnya nanti celana ibu kena body lotion, dan aku memijatnya kurang begitu leluasa, nanti ibu komplain nich"
Kulihat Bu Rini agak malu-malu saat membuka celana panjangnya, sambil langsung melilitkan handuk untuk menutupi celana dalamnya. Lalu aku mulai memijit betis beliau dengan lotion sambil perlahan-lahan menyingkap handuknya menuju pahanya. Kulihat dari belakang Bu Rini hanya mendesah saja, mungkin karena terasa enak pijitanku ini. Saat mulai memijit pahanya body lotion aku pergunakan agak banyak, dan handuk sudah tersingkap hingga punggungnya.
Aku mulai renggangkan kedua kaki Bu Rini, sambil memijat paha bagian dalam. Tampaknya Bu Rini menikmatinya. Tanpa buang waktu dalam keadaan terlungkup aku menarik celana dalam Bu Rini ke bawah sambil berkata "Maaf Bu yach".
Dia hanya mengangguk saja sambil terpejam matanya, mungkin karena Bu Rini sudah mulai terangsang saat aku pijit pahanya dengan lotion yang begitu banyak.
Wow kulihat pantat Bu Rini tersembul dengan belahan ditengahnya tanpa sehelai rambut yang mengelilingi vagina ibu tersebut. Aku mulai lagi memijit paha bagian atas hingga ke pantatnya dengan menggunakan kedua jempolku. Kutekan pantat Bu Rini hingga belahannya agak terbuka lebar, dengan sekali-kali aku sapu dengan keempat jariku mulai dari vagina ke atas hingga menyentuh lubang anusnya.
"Och.. Och.."
Hanya itu yang keluar dari mulut Bu Rini, rupanya dia mulai sangat amat terangsang, tapi dia type yang pasif, hanya menerima apa yang akan diperbuat kepadanya. Aku mulai nakal, kulumuri kelima jariku dengan lotion lalu aku mulai sapu dari anus hingga kebawah ke arah vagina ibu Rini dan diimbangi dengan makin naiknya pantat Bu Rini.
"Och.. Och.. Mas teruskan Mas.. Och.."
Pelan-pelan kumasukan jari telunjuk dan tengah ke dalam vaginanya, lalu kukocok hingga mentok kedinding bagian dalam vagina, sambil perlahan-lahan jempolku menekan lubang anus Bu Rini. Kulihat Bu Rini agak meringis sedikit, tapi tetap tidak ada sinyal menolak. Jempolku sudah masuk ke dalam anus Bu Rini, perlahan-lahan sambil kulumuri agak banyak body lotion kukocok juga lubang anus Bu Rini, hingga sekali tekan jempolku masuk ke lubang anus, sedangkan jari telunjuk dan tengah masuk ke vaginanya, dan aktifitas itu aku lakukan hingga 3 menit.
Dan kulihat Bu Rini sudah tidak lagi meringis tanda kesakitan disekitar lubang anusnya, tapi sudah terlihat diwajahnya rasa kenikmatan, meskipun matanya terus terpejam hanya beberapa kali tersengah.
"Och.. Och.."
Setelah itu aku jilat kuping Bu Rini dengan lidahku sambil berbisik.
"Aku masukan yach Bu kontolku"
Ibu Rini hanya mengangguk setuju tanpa membuka matanya. Lalu aku buka seluruh pakaianku, lalu aku ganjel perut Bu Rini dengan bantal yang kulipat, supaya pantat dan lubang vaginanya agak menguak ke atas. Lalu aku masukan kontolku ke dalam vagina Bu Rini dan kukocok hingga 15menit, lalu kulihat lendir putih sudah mulai keluar dari lubang vagina Bu Rini.
Rupanya Bu Rini sudah mencapai klimaks hingga mengeluarkan pejunya duluan, lalu aku seka dengan handuk dan kuayun kembali kontolku hingga 15 menit kemudian, hingga Bu Rini mencapai klimaks yang kedua kali. Sedangkan kontolku makin tegang saja tanpa isyarat akan memuncratkan peju. Karena sudah pegal juga pinggangku, aku ambil body lotion kulumuri anus Bu Rini sambil kubuka lubang anus tersebut hingga masuk ke dalam, lalu aku pelan-pelan menekan ujung kontolku hingga masuk ke dalam anus Bu Rini.
"Och.. Pelan-pelan Mas.." Bu Rini mengeluh.
Terus kutekan kontolku hingga masuk ke dalam anus Bu Rini, lalu pelan-pelan aku cabut kontolku. Memang kontolku terasa amat terjepit oleh lubang anus Bu Rini, ini membuat aku mulai terangsang. Kutekan lagi kontolku ke dalam lubang anus Bu Rini, dan pelan-pelan mulai kukocok lubang anus Bu Rini dengan kontolku ini sambil melumuri body lotion supaya lubang anus Bu Rini tidak lecet, terus kulakukan aktifitas ini hingga 5menit dan tiba-tiba peju dikontol mulai mengadakan reaksi ingin berlomba-lomba keluar. Lalu kucabut kontolku, dan kulepaskan seluruh pejuku bertebaran diatas sprei.
Setelah itu Bu Rini langsung membersihkan badannya kekamar mandi, lalu kususul Bu Rini di kamar mandi yang sudah tanpa sehelaipun benang ditubuhnya, lumayan bodynya cukup montok, tetenya sudah agak kendur tapi masih menantang seperti buah pepaya yang masih tergantung dipohon, perutnya juga sudah mulai ada lipatan lemaknya, tapi tetap enak dipandang, karena memang warna kulitnya seluruhnya kuning langsat. Lalu aku bantu Bu Rini saat hendak memakai sabun ditubuhnya, demikian juga aku dibantu juga oleh Bu Rini.
Setelah selesai mandi kontolku mulai bangun kembali, lalu kuminta Bu Rini untuk main kembali, Bu Rini memberikan isyarat ok. Dan kusuruh Bu Rini duduk dikursi tanpa mengenakan pakaian selembarpun, kuangkat kedua kakinya ke atas dengan posisi mengangkang lalu kusuruh Bu Rini memeluk kakinya kuat-kuat, lalu aku jongkok dan mulai menyapu vagina Bu Rini dengan lidahku, sambil jari telunjukku ikut masuk ke dalam vagina bagian bawah sambil mengocoknya. Disini Bu Rini tampak mendesah agak keras.
"Och.. Och.. Och.. Masukan saja Mas.. Aku enggak kuat"
Tanpa buang waktu lagi karena memang kontolku mulai keras kembali, kutekan kontolku ke dalam lubang vagina Bu Rini kembali sambil setengah berdiri, sedangkan kedua kaki Bu Rini sudah bersandar di depan bahuku, terus kusodok vagina Bu Rini dengan kontolku, hingga 30 menit lebih aku belum bisa juga mengeluarkan pejuku. Lalu kuminta Bu Rini untuk mengisap kontolku supaya cepat keluar pejuku ini.
Kedua kakinya kuturunkan lalu aku memegang kedua pipinya ke arah kontolku, lalu aku memasukan kembali kontolku ke dalam mulut Bu Rini, disini kulihat Bu Rini mengimbangi dengan isapan serta air liurnya yang mulai menetes dari mulutnya untuk membuatku cepat mencapai puncak. Memang benar-benar lihai Bu Rini, sebelum mencapai waktu lima menit aku sudah tidak tahan lagi menahan pejuku muncrat didalam mulutnya.
Setelah itu kami berdua membersihkan diri kembali kekamar mandi, lalu kami kembali ke salon Bu Rini. Sebelum keluar dari mobil, aku sempat berbisik kepada Bu Rini. Memang yang lebih tua, sangat paham dalam pengalaman dalam hal ini dibanding dengan yang masih muda. Bu Rini hanya tersenyum manis saja, sambil turun dari mobilku dan kembali masuk ke dalam salonnya.
Langganan:
Postingan (Atom)





